oleh

60 Tahun Pendidikan Formal Pondok Pesantren Suryalaya Lahirkan Manusia Cageur Bageur

 

Oleh : Nana Suryana
Dosen IAILM Suryalaya

 

1 Agustus merupakan hari bersejarah bagi Pondok Pesanatren Suryalaya Tasikmalaya. Tanggal tersebut merupakan hari jadi pendidikan formal. Pada 1 Agustus 2021 ini pendidikan formal Pondok Pesantren Suryalaya genap berusia 60 tahun, sebuah pencapaian usia pendidikan yang luar biasa. Jika menilik Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998, usia 60 tahun merupakan usia lanjut, usia yang sudah sarat dengan pengalaman dan pengabdian.
Di hari jadinya ke-60, berharap pendidikan formal di Pondok Pesantren Suryalaya dapat lebih baik, lebih maju, dan lebih modern, sehingga keberadaannya lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. ‘Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat, demikian sabda Rasulullah SAW.
Pondok Pesantren Suryalaya
Dikutip dari laman www.suryalaya.org. Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh. Pada masa perintisannya banyak mengalami hambatan dan rintangan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari masyarakat sekitar. Dengan izin Allah SWT dan juga atas restu dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon semua itu dapat dilalui dengan selamat. Tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad ra. mendirikan sebuah pesantren yang terletak di kampung Godebag, Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Nama Suryalaya diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin.
Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan. Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui dan dibutuhkan.
Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh sembilan orang wakil talqin dan beliau meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid atau ikhwan, yaitu TANBIH.
Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad ra. berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra. yang akrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom.
Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali mantan anggota PKI, untuk kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara.
Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju, membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Tanbih.
Pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI, Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 1953), dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan juga wakil talqin  yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.
Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, pertanian, kesehatan, lingkungan hidup, dan kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya.
Esksitensi Pendidikan Formal
Hadirnya yayasan serba bakti memperkuat dan memperluas peran serta Pondok Pesantren Suryalaya dalam mengisi dan melanjutkan pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia. Dari sekian tugas dan fungsi yayasan serba bakti adalah menyelenggarakan pendidikan formal.
Bicara pendidikan formal di Suryalaya tidak lepas dari sosok KH. Noor Anom Mubarok, BA. Beliau memperoleh amanah dari pendiri Pondok Pesantren Suryalaya merintis dan mewujudkan pendirian lembaga pendidikan formal. Sejak 1 Agustus 1961 beliau mendirikan Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP). Pada tahun 1972 SMIP berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Serba Bakti Pondok Pesantern Suryalaya.
Tahun 1964 berdiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) Serba Bakti. Tahun 1979, tepatnya tanggal 19 Nopember 1979 MTs terdaftar di Kementrian Agama Kabupaten Tasikmalaya. Sekitar tahun 1966 MTs dirubah menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun dilanjutkan PGA 6 tahun. Sesuai peraturan pemerintah waktu itu, PGA dipecah menjadi MTs untuk PGA 4 tahun dan Madrasah Aliyah untuk PGA 6 tahun. Selain berdiri MTs dan MA, tahun 1967 juga pernah berdiri Perguruan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) dan hanya berlangsung sampai tahun 1970. Sampai sekarang keberdaan MTs dan MA terus eksis dan terus melahirkan lulusan yang cageur bageur. Madrasah Aliyah (MA) memiliki tiga jurusan yaitu Ilmu-Ilmu Sosial, Ilmu-ilmu Keagamaan, dan Matematika Ilmu Alam. MTs dan MA sudah terakreditasi BAS/M.
Di tahun 1975 berdiri Sekolah Menengah Atas (SMA) atas prakarsa Rd. Makhdar sampai sekarang dengan dua jurusan yaitu Matematika IPA (MIPA) dan IPS. Adapun Taman Kanak-Kanak yang diberi nama TK Hj. Euis Siti Ruyanah berdiri tahun 1977 dan Kelompok Bermain (tahun 2008). Selain itu juga pernah dibuka Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) pada tahun 1994 sampai tahun 1999.
Pendidikan lain yang juga berdiri di Pondok Pesantren Suryalaya adalah Perguruan Tinggi Latifah Mubarokiyah berdiri tahun 1986 dengan dua Fakultas yaitu Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Fakultas Syariah Jurusan Muamalah Jinayah. Tahun 1988 dikembangkan dengan membuka Fakutas Usuludin Jurusan Dakwah dan berubah menjadi Instiut Agama Islam Latifah Mubarokiah (IAILM). Sampai sekarang IAILM telah memiliki tujuh Program Studi (Prodi) tersebar di tiga Fakultas. Fakultas Tarbiyah terdiri dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Fakultas Syariah memiliki dua program studi yaitu Hukum Ekonomi Syariah dan Ekonomi Syariah. Sedangkan Fakultas Dakwah terdiri dari dua Prodi, Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Ilmu Tasawuf. Selain Strata Satu (S1) IAILM juga telah memiliki pascasarjana Magister Ilmu Tasawuf, semua terakreditasi BAN-PT.
Selain IAILM, juga berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Latifah Mubarokiyah (STIELM) pada 5 September 1999 dengan dua jurusan yaitu Manjemen (S1) dan Keuangan Perbankan (D3) serta program pascasarja Magister Manajeman. Semua Prodi sudah terkareditasi BAN-PT.
Untuk membantu masyarakat terutama lulusan SLTP yang berminat dalam bidang keahlian teknologi dan industri, tahun 2003 berdiri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Plus YSB dengan Nomor ijin operasional 01 18/421.5-Disdikbu/Dikmen/2003 tanggal 13 Januari 2023. Sampai sekarang SMK telah memiliki beberapa jurusan yaitu TKJ, TKR, Akuntasi, Perhotelan, Pemasaran, Kesehatan Keperawatan, dan Farmasi. Semua sudah terakredaitasi BAS/M.
Sebagai bagaian tak terpisahkan dari Pondok Pesantren Suryalaya, pendidikan formal di lingkungan yayasan serba bakti, mulai dari TK sampai Pergruan Tinggi memiliki pembeda (distingsi). Pembedanya adalah semua pendidikan sesuai jenjangnya wajib memasukan dan mengajarkan materi kesuryalayaan yaitu tentang Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) dalam kurikulumnya. Melalui kesuryalayaan ini diharapakan semua lulusan menjadi pengamal, pengembang, dan pelestari amaliah TQN Pondok Pesantren Suryalaya sehingga pada akhrinya mereka menjadi manusia yang cageur bageur lahir batin, jasmani dan ruhani. Semoga. Selamat Hari Jadi Pendidikan Formal Ke -60.

Komentar

News Feed