Connect with us

KIPRAH

Adegan G30S PKI di SMKN 1 Garut

|

ADA suasana berbeda yang dirasakan di lingkungan SMKN 1 Garut, Senin (1/10/2018). Jika biasanya setiap pagi suasana tenang menyertai jalannya kegiatan belajar mengajar, akan tetapi pagi itu suasana terdengar begitu hiruk pikuk. Bukan hanya riuh oleh sura teriakan, suara raungan knalpot kendaraan, bahkan rentetan ledakan pun sempat terdengar berulang kali di dalam lingkungan sekolah.

Hal ini tentu menarik perhatian warga sekitar dan juga mereka yang melintas di kawasan Jalan Cimanuk, lokasi SMKN 1 Garut berada. Suara hiruk pikuk tersebut ternyata berasal dari kegiatan teatrikal yang saat itu tengah dimainkan oleh para guru dan siswa SMKN 1 Garut.

Tak ketinggalan, Kepala SMKN 1 Garut juga terlibat langsung dalam jalannya teatrikal yang menggambarkan peristiwa pemberontakan G30S/PKI tersebut. Aksi teatrikal ini memang hanya sebagi bentuk ilustrasi untuk menunjukan bagaimana kekejaman PKI terhadap para petinggi TNI yang dikenal dengan sebutan Dewan Jenderal serta upaya mereka untuk merebut kekuasaan. Namun pada pelaksanaannya tak jauh beda dengan apa yang kita saksikan di film karena tetrikal ini dikemas sedemikian rupa sehingga ditampilkan dengan apik dan menarik.

Pihak penyelenggara bukan hanya melibatkan sekitar seratus orang peserta dalam aksi teatrikal tersebut, tapi juga melengkapi peserta dengan aksesories sesuai peran yang dilakoninya. Bukan hanya atribut lengkap TNI dimulai dari pakaian seragam, sepatu, helm, dan senjata mainan, ada juga lima buah mobil jeef yang digunakan untuk mendukung jalannya teatrikal tersebut.

Yang lebih menarik lagi, setiap kali terdapat adegan tembakan, muncul suara letusan yang berasal dari suara petasan. Tak hanya itu, dari dalam baju yang dikenakan orang yang ditembak pun keluar cairan merah yang benar-benar menyerupai darah. Tak kalah menariknya, dalam melakukan setiap adegan, guru dan siswa yang menjadi pemain teatrikal melakukannya dengan sangat apik. Seperti halnya adegan pembunuhan terhadap tujuh jenderal yang nampak begitu mirip. Meski peran jenderal yang menjadi korban pembunuhan adalah para guru.

Akan tetapi siswa yang berperan menjadi anggota Cakrabirawa sama sekali tidak terlihat canggung saat harus membentak bahkan mendorong hingga memasukan tubuh mereka ke kolam yang dianggap sebagai Lubang Buaya. Serunya aksi teatrikal ini juga sangat terlihat tatkala mempertunjukan adegan pasukan TNI dengan menggunakan kendaraan jenis jeef mengejar para PKI. Dalam aksi tembak-tembakan pada adegan ini juga diwarnai rentetan letusan dari petasan.

“Kami sangat senang bisa menyaksikan kreasi yang sangat menarik dari para guru dan rekan- rekan sesama siswa dalam aksi teatrikal ini. Bukan hanya menghibur tapi ini juga mampu memberikan gambaran kepada kami tentang sejarah yang dulu pernah terjadi di negara kita,” komentar Selfi, siswa kelas X.

Diakuinya, sebelumnya ia memang pernah beberapa kali menyaksikan film tentang pengkhianatan G30S/PKI baik di layar lebar maupun di televis. Namun menurutnya, menyaksikan teatrikal yang dikemas secara apik seperti ini tak jauh menariknya bahkan bisa dibilang lebih menantang.

“Terasa lebih seru melihat teatrikal ini karena kami bisa dengar langsung suara seperti tembakan dan juga melihat ada cairan meyerupai darah dari tubuh orang yang ditembak. Apalagi adegan kejar-kejaran dan saling tembak dengan menggunakan mobil yang benar-benar menarik,” ujarnya.

Namun hikmah paling penting yang bisa diambil dari teatrikal pengkhianatan G30S/PKI itu, menurut Selfi adalah pengenalan sejarah kepada generasi muda terutama para pelajar. Generasi muda Indonesia memang sudah seharusnya mengenal sejarah untuk lebih memperkuat kecintaan terhadap bangsa dan negara agar tidak mudah terpengaruh oleh paham yang tidak benar.

“Apa yang telah dilakukan PKI itu benar-benar sebuah pengkhianatan yang sangat keji. Hal seperti itu jangan sampai terjadi lagi di negara kita,” katanya. Ungkapan terkesan dengan aksi teatrikal pengkhianatan G30S/PKI ini juga dilontarkan Kusuma Ningrum, guru SMKN 1. Apalagi ia sendiri ikut langsung bermain dalam teatrikal tersebut.

“Sangat terkesan meskipun saya harus berperan sebagai anggota kelompok Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Ya setidaknya kita juga jadi lebih mengenal sejarah dan tentunya kita tak mau sejarah kelam seperti itu terulang kembali,” ucap ibu dua anak ini.

Diakui Ningrum, untuk menggelar aksi teatrikal tersebut, ia sudah berlatih selama kurang lebih dua minggu. Namun hal itu sama sekali tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar karena latihan dilakukan di luar jam mengajar.

Sementara itu Kepala SMKN 1 Garut, Dadang Johar Arifin, menerangkan pihaknya memang ingin menyampaikan pesan kepada siswa bagaimana sejarah pengkhianatan G30S/PKI itu terjadi. Pesan bukan hanya disampaikan melalui pelajaran sejarah tapi juga ingi disampaikan melalui ilustrasi dalam bentuk teatrikal agar bisa lebih menyentuh dn benar-benar dirasakan.

“Banyak cara yang bisa disamapaikan untuk dapat menyampaikan sejarah kepada siswa selain melalui pelajaran di dalam kelas. Kita coba kemas melalui cara lain yakni teatrikal agar kesan dan pesannya bisa lebih terasa sehingga diharapkan para siswa benar-benar faham,” kata Dadang yang dalam aksi teatrikal itu turut berperan sebagai Jenderal Suharto.

Lebih jauh disampaikan Dadang, teatrikal tersebut juga merupakan sebuah gambaran kepada para siswa tentang sejarah di Indonesia. Dalam teatrikal itu, ia meminta para siswa bisa memahami dan menghargai perjuangan petinggi bangsa yang telah berani berkorban.

“Pesan intinya, bagi para generasi milenial agar jangan pernah menyepelekan bahaya laten komunis. Jangan melupakan fakta sejarah, kalau lupa akan hancur,” pesannya. (Aep Hendy S)

sumber Kabar Priangan

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Komentari