Connect with us

RESENSI

Belajar dari Kesalahan Menulis

|

Buku 101 Dosa Penulis Pemula Judul Buku        :

(Mengupas Intisari Workshop Menulis Asma Nadia)

Penulis             :Isa Alamsyah (Penulis Produktif Buku Motivasi, Pendiri dan Pengasuh Komunitas Bisa Menulis

Penerbit           : AsmaNadia Publishing House

Tahun terbit    : 2014

Tebal             : 336 halaman

ISBN             : 978-602-9055-28-3

 

 

Tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Begitu pula dengan seorang penulis mereka tentunya pernah melakukan kesalahan. Isa Alamsyah sang penulis buku Best Seller “101 Dosa Penulis Pemula” memaparkan dengan detail kesalahan-kesalahan tersebut. Pemilihan kata “Dosa” dalam judul buku ini disadari penulis sendiri memang punya resiko. Bahkan ada yang keberatan dengan pemakaian kata “ Dosa “ yang terkesan sakral, tetapi inilah kebebasan berinterpretasi penulis sendiri. Untuk menetralisasi, di bagian ralat halaman depan dijelaskan permohonan Isa Alamsyah untuk meralat kata “dosa” dalam buku ini menjadik kata “kesalahan”. Ide kata “Dosa” sendiri berasal dari Asma Nadia yang tidak lain adalah istrinya sendiri Sang Penulis Best Seller 53 buku.

Buku ini mengumpulkan daftar “dosa” kepenulisan yang kurang diperhatikan penulis pemula, bahkan penulis professional sekalipun. Setiap penulis pasti pernah melakukan kesalahan dalam proses kreatifnya. Daftar “dosa” dalam buku ini berdasarkan pengamatan atas ribuan tulisan yang berasal dari peserta lomba/workshop kepenulisan, peserta privat/coaching buku, posting-an di Komunitas bisa Menulis dan juga karya tulis serta film baik di Indonesia maupun luar negeri yang sudah beredar di tengah masyarakat.

Hal menarik dari buku ini adalah penggunaan bahasa yang tidak menggurui namun bersifat aplikatif disertai dengan contoh-contoh yang telah diterbitkan atau dikirim ke Komunitas Bisa Menulis yang dibentuknya dengan telah mempunyai 70.000 member tersebut. Dengan adanya contoh tersebut maka isi dalam buku ini menjadi riil dan bukan sekedar teori. Sehingga sebagai penulis pemula, pembaca akan lebih mencerna  isi buku. Isa Alamsyah membagi 101 Dosa Penulis Pemula ini menjadi 17 Bagian sebagai berikut :

  1. Pengulangan kata atau gaya yang sama (hal. 1-17). Termasuk didalamnya ada pengulangan menulis kata aku, Anda, Nama dan kecenderungan kata atau gaya sering digunakan. Menurut Isa, hal ini bisa membuat tulisan terkesan kurang kreatif dan monoton.
  2. Akibat pemakaian kalimat tidak efektif atau tidak selektif (hal. 21-28). Umumnya dilakukan dengan menjelaskan hal sudah jelas, mengulang keterangan, berlebihan dalam meberi tekanan, tidak selektif, efektif dan bertele-tele.
  3. Ide (hal. 29-42). Ide merupakan langkah awal paling penting dalam menulis. Seorang penulis harus mampu menemukan ide yang unik, menarik, tidak klise, tidak orisinal, bukan pasaran, dan spesial.
  4. Judul (hal. 43-63). Bagian ini paling banyak dibahas oleh Isa Alamsyah dalam bukunya ini. Alasannya Judul merupakan hal yang pertama kali dilihat dari sebuah tulisan atau film dan membuat seseroang ingin membaca atau menontonnya. Judul tidak menarik, tidak menggebrak, serta yang membocorkan ending atau isi cerita, dan tentunya judul yang tidak sesuai harap dihindari oleh siapapun penulis.
  5. Opening (hal. 65-91). Jika Judul bisa bisa menjadi daya tarik yang mendorong orang mau membaca sebuah tulisan maka opening adalah pemikat yang membuat seseorang mau terus membaca sebuah karya sampai habis. Isa Alamsyah memaparkan bahwa yang biasa menjadi “dosa” dalam bagian ini biasanya opening yang digunakan tidak menggebrak, bertele-tele, tidak membangun rasa penasaran serta tidak variatif.
  6. Konflik (hal. 93-113). Kelemahan utama penulis pemula salah satunya adalah tidak menghadirkan konflik didalamnya atau ada konflik namun tidak menarik, terlalu banyak, tidak fokus, tidak memuaskan, tidak membangun rasa`penasaran, tidak diselesaikan bahkan penulis seru sendiri tapi pembaca tidak merasakan apa-apa. Tentu saja apabila terjadi hal seperti itu, bisa dikatakan penulis itu gagal dan cerita akan menjadi hambar dan tidak menarik lagi.
  7. Ending (hal. 115-139). Ending merupakan hal terakhir yang tertanam pada pembaca. Inilah yang ditunggu dari semua cerita atau tulisan. Ending yang mudah ditebak, klise, terkesan memaksakan, buru-buru, dan tidak logis harap dihindari.
  8. Detail (hal. 141-151). Detail akan membuat logika dalam cerita jadi masuk akal. Yang penting diperhatikan penulis menurut Isa Alamsyah adalah, jangan memberi detail yang tidak penting dalam sebuah cerita.
  9. Narasi atau Deskripsi (hal. 153-168). Kekacauan dalam narasi atau deskripsi akan mendominasi semua tulisan. Karena dalam sebuah cerpen atau novel biasanya hanya terbagi dalam dua hal besar , pertama narasi atau deskripsi dan kedua dialog.
  10. Karakter penokohan dan penamaan (hal. 169-194). Perasaan yang timbul dari cerita yang dibaca sebagian besar dipengaruhi oleh apa yang dialami oleh tokoh atau karakternya. Namun, ketika dalam suatu cerita karakter/tokoh didalamnya terlalu banyak, tidak konsisten, tidak terikat secara emosional dengan karakter/tokohnya dan tidak piawai memilih nama tokoh, maka akan mengurangi efek yang ingin penulis sampaikan.
  11. Diksi dan kosa kata (hal. 195-206). Seorang penulis harus kaya dengan kosa kata atau variasi kata, orisinalitas, berani bereksplorasi maupun bereksperimen kata dan yang utama harus sering membuka kamus. Sulit untuk menjadi penulis yang unggul jika kosa kata yang dimiliki sama dengan kebanyakan orang sehingga tidak spesial.
  12. Setting (hal. 207-217). Disini diputuskan bahwa seorang penulis unggul harus mampu memutuskan kapan setting tempat atau waktu tertentu diperlukan. Kapan cukup memilih waktu dan tempat yang netral sehingga akan membuat cerita makin kuat. “Dosa” yang biasa penulis pemula lakukan adalah asal pilih setting waktu atau tempat dan tidak [piawai menyajikan nuansa atau bahasa lokal.
  13. Dialog (hal. 219-241). Dialog membuat tulisan lebih variatif dan dinamis, sehingga tidak monoton sekedar narasi saja. Begitu pun dengan tulisan non-fiksi dengan menyelipkn dialog dalam sebagian ilustrasi, cerita akan terkesan lebih menarik. Namun pastikan bahwa dialog yang ada itu memang penting dan dibutuhkan cerita. Yang perlu dihindari adalah dialog yang tidak membumi, jangan terpengaruh jenis kelamin penulis, gaya tokoh sama, monoton, tidak mengerti tata bahasa dalam penulisan dialog dan mengulang informasi yang tidak penting.
  14. POV atau Point Of View atau sudut pandang penceritaan (hal. 243-253). Pada cerpen atau novel, POV secara umum hanya terdiri dari dua pilihan sebagai orang pertama atau orang ketiga. Agar penulis tidak kehilangan kualitas tulisannya perlu ditekankan supaya mampu membedakan kedua POV, tidak monoton dan harus bertutur sesuai umur dan ilmu tokohnya.
  15. Alur dan Plot (hal. 255-275). Isa Alamsyah menuturkan bahwa penulis harus piawai memilih pendekatan mana yang terbaik buat ceritanya, karena setiap alur punya kelebihan dan kecocokan terhadapa cerita tertentu. Penulis juga harus memahami konsep alur atau plot, memaksimalkan alur dan mampu membangun klimaks atau tidak ada klimaks.
  16. Pesan (hal. 279-291). Cerita yang baik adalah yang mempunyai pesan atau gagasan di dalamnya, bukan sekedar hiburan atau selingan semata. Ketika suatu tulisan tidak ada pesan atau sebaliknya malah terlalu banyak pesan, terlalu verbal dan seolah-olah menggurui maka essensi atau tujuan suatu tulisan untuk menyebarkan kebaikan akan kurang.
  17. Mental dan sikap penulis (hal. 297-313). Untuk sukses di dunia kepenulisan, menguasai teknis menulis dn teknis bercerita saja tidak cukup. Dibutuhkan juga mental dan sikap yang bisa mendukung kita sampai ke puncak. Hal yang harus dihindari terkait ini antara lain : menyingkat-nyingkat atau memakai bahasa alay, mudah menyerah dan tidak bermental baja, malas-cepat puas, hati tidak peka, visi tidak tajam dan tidak motivasi kuat.

Menurut Asma Nadia, Buku yang dibuat jurnalis andal ini mampu menjabarkan teori kepenulisan dengan cara yang mudah dimengerti siapa saja bahkan yang awam di dunia kepenulisan. Di sisi lain, tetap masukan berharga bagi mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia kepenulisan untuk menulis lebih baik. Dengan mengetahui dosa-dosa dalam menulis, kita mengerti bagaimana menulis dengan benar dan menghasilkan karya yang menarik dan mendapatkan sesuatu yang berharga  serta dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang selama ini mengurangi kualitas suatu tulisan. Jadi untuk penulis pemula yang mau belajar meningkatkan ilmu kepenulisannya buku ini sangat tepat digunakan. Harapan Isa Alamsyah dengan hadirnya buku ini akan semakin banyak penulis berbakat dan berkibar di Indonesia.

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Komentari