Connect with us

KOLOM

Berguru pada Sunyi

|

Judul Buku   : Sepucuk Surat Dari Sunyi (Kumpulan Esai, Artikel, dan Jurnal)
Penulis      : Vudu Abdul Rahman
Penerbit     : Langgam Pustaka
Tahun terbit : 2017
Tebal        : 499 halaman
ISBN         : 978-602-61458-0-2

Pertama melihat buku ini sepertinya tidak ada yang aneh, apalagi dengan cover berwarna hitam selain judul dan nama penulis tentunya. Di tengah cover buku seolah-olah ada sampul surat berwarna merah yang seakan-akan muncul dan hilang begitu saja dalam gelap. Namun buku ini cukup membuat penasaran seperti penulisnya sendiri, Kang Vudu, yang tidak banyak bicara tapi pergerakannya dalam dunia literasi patut diacungi jempol dan menjadi kebanggan Indonesia khususnya Kota Tasikmalaya.

Secara garis besar, membaca buku “Sepucuk Surat dari Sunyi” ini seolah-olah mengajak pembaca berwisata literasi. Dengan suguhan kata, kalimat, istilah dan quote orang-orang terkenal, jelas sekali mata, hati dan fikiran kita akan dimanjakan dengan rangkaian kata, kalimat, paragraph yang membentuk tulisan yang indah dan enak dibaca. Membaca buku ini memang memerlukan energi dan pemusatan jiwa lebih apalagi orang awam seperti saya. Buku yang Kang Vudu susun dan kumpulkan selama 7 tahun ini seakan menjadi diary perjalanan dan perjuangannya dalam menggeliatkan literasi dari lingkungan terdekat sampai dunia internasional. Perlahan tapi pasti. Segala proses yang telah melalui perenungan lama ini telah menjelma menjadi sebuah buku yang menakjubkan dan memberikan hikmah serta pencerahan luar biasa kepada para pembacanya. Sungguh menginspirasi.buku ini juga membuat pembaca lebih dekat mengenal sosok Vudu Abdul Rahman dengan cita-cita mulianya untuk menyebarkan virus kebaikan terutama lewat literasi.

Buku “Sepucuk Surat Dari Sunyi” terbagi menjadi 3 bagian: prolog, isi dan epilog. Untuk bagian isi sendiri tersebar lagi menjadi esai, artikel dan jurnal. Dalam prolognya yang berjudul “ Percakapan Lilin, Kunang-kunang dan Matahari”, Kang Vudu menjelaskan bahwa harapannya menerbitkan buku ini adalah seperti lilin yang berusaha menerangi hingga detik-detik terakhir, tetapi kunang-kunang melanjutkan pesannya, dan berganti dengan cahaya matahari. Meski kedap-kedipnya kecil, tetapi dapat memberi harapan terhadap dunia pendidikan. Barangkali suatu hari, buku ini akan menjadi matahari untuk anak-anak sendiri dan yang terlibat selama bergiat. Selain itu, buku ini diharapkan bermanfaat bagi orang-orang dalam mengeja pendidikan alternatif yang pernah diujicobakan dengan jalan mendirikan komunitas (hal. xiv-xv).

Bagian isi, merupakan kumpulan pengalaman dan kegiatan beliau selama bergerilya dalam menggaungkan pentingnya mewujudkan masyarakat literat. Tulisan-tulisan yang dibagi menjadi tiga bab ini, digolongkan kedalam esai, artikel dan jurnal yang sebagian besar pernah dimuat di beberapa media cetak dan media online lokal, interlokal, nasional, dan internasional. Ciri khas dari tulisan beliau adalah meskipun bersifat ilmiah, namun melalui pendekatan sastra sehingga menimbulkan kesan lebih dalam kepada pembacanya. Selain itu, kemampuan beliau meramu hal-hal penting seperti quote orang terkenal, kisah inspiratif dan realitas di lapangan menunjukkan bahwa Kang Vudu memang memiliki perbendaharaan pustaka literasi  yang banyak. Ini menyebabkan tulisan-tulisan beliau berkualitas dan layak dijadikan referensi maupun sumber belajar. Sehingga salah satu karya beliau bersama rekan-rekannya berupa buku komik Saung Langit (Shelter of The Sky) berhasil menduniakan Tasikmalaya karena menarik penerbit Hongkong Slowork Publishing Hongkong dan telah diterbitkan dalam empat bahasa : Indonesia, Mandarin, Inggris dan Perancis. Sungguh pencapaian luar biasa, menurutnya pembuatan komik dokumenter grafis ini sebagai sebuah upaya anak-anak dalam menerjemahkan cinta kepada kota kelahiran. Setidaknya memberi kontribusi kepada kota sendiri dan negara ini melalui karya nyata. From The Shelter to the World .

Dalam bagian lain, melalui “Sepucuk Surat dari Sunyi” Kang Vudu menuturkan bagaimana perintah membaca diturunkan Sang Khalik kepada Hamba Pilihan-Nya di Gua Hira. Ini merupakan wahyu pertama yang diterima Baginda Nabi Muhammad dan itu adalah perintah membaca.  Membaca tidak sekedar teks dengan kata-kata dan maknanya, lebih dari itu seluruh peristiwa dalam keseharian juga perlu dibaca. Bukankah semua yang ada dan peristiwa di dalamnya merupakan ayat-ayat yang telah dirangkai Tuhan (hal. 106)

Buku ini ditutup apik dengan sebuah epilog : Tujuan Bertualang adalah Pulang (hal 485-491). Kang Vudu menuturkan bahwa dalam menuliskan kumpulan esai, artikel dan jurnal beratus-ratus halaman selama 7 tahun tersebut, Beliau menemukan garis paralel pada sebuah novel berjudul, “Sang Alkemis – The Alchemist” dengan tokoh bernama Santiago. Santiago menemukan takdirnya, hartanya, dan kasih saying Fatima di akhir perjalanan karena mengikuti kata hatinya sebagai petunjuk dalam membaca peta jalan kehidupan. Begitu pun dirinya yang telah melakukan perjalanan dalam bergiat di dunia literasi anak.

Melalui bukunya, Kang Vudu hanya ingin berbagi bahwa ketika seseorang bergerak, maka semesta akan mendorong dari segala penjuru mata angin dan membuka jalan tidak terduga. “Mari berbagi dan peduli!” pungkas Presiden Rumpaka Percisa ini berpesan di akhir buku.

 

 

 

 

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Komentari