oleh

Cerita Literasiku

Aku tak pernah punya target muluk-muluk. Ada 4 sampai 5 orang saja yang memiliki buku setiap kali aku menerbitkan, bagiku itu sudah cukup. Bukan aku tidak tahu keuntungan dalam hal ekonomi, tetapi aku cukup mengerti bahwa tidak banyak orang yang mau mengeluarkan koceknya hanya untuk sebuah buku, apa lagi buku karya penulis pemula seperti aku. Mereka lebih tertarik untuk membeli baju, tas, sepatu atau accesories lainnya.
Bahkan sebagaimana penulis lainnya, aku pun mengalami hal yang sama. Beberapa kali ketika buku kita tawarkan, beberapa dari mereka memintanya secara gratis. Sebenarnya sah-sah saja, sesekali kita memberikannya sebagai hadiah dengan harapan akan menjadi kenang-kenangan di kemudian hari.
O ya… Kenapa mereka memintanya secara cuma-cuma? Karena mereka tidak tahu budget yang kita keluarkan untuk menerbitkan buku. Jadi kita maklumi saja. Kalau mereka tahu, mana mungkin mereka begitu.
Aku termasuk penulis yang suka bertukar buku dengan penulis lainnya. Asyik, lho. Selain menambah koleksi buku kita, itu juga salah satu upaya agar kita lebih dekat dengan mereka. Ya tambah teman dan saudara yang satu passion dengan kita. Hal itu bisa menambah wawasan dan semangat dalam berkarya.
April 2018, ketika buku “Jejak-Jejak dalam Sajak” kutitipkan di sebuah lapak bazar buku, dengan tidak disangka-sangka seorang pakar yang kami hormati langsung membelinya dengan sukarela, tanpa basa basi sedikit pun, apalagi tawar menawar , padahal sebelumnya aku saksikan beberapa peminat buku telah membolak-balik bukuku itu dan menyimpannya kembali di lapak bazar. Karena kurang menarik atau karena harga yang kupasang dianggap terlalu tinggi? Aku tidak tahu.
Pada tahun 2017 -2018 Buku “Adelaide dalam Bingkai Kenangan” dan “The Miracle of Life” merupakan buku-buku karyaku yang terjual paling banyak diantara buku-buku karyaku yang lainnya. Masing-masing terjual 49 eks dan 34 eks. Bagaimana aku tak senang, karena bagiku itu telah melebihi target. Apalagi buku tentang Adelaide itu, seorang Ibu guru dari Garut langsung memesan 3 eks untuk koleksi perpustakaan di sekolahnya.
Di awal tahun 2019 ini, aku launching buku solo yang ke 8, buku itu berbahasa sunda, yakni Kumpulan Sajak Sunda ANAKING. Apa yang terjadi? Ada seorang teman menghargai buku itu dengan 200k / eks. Kaget, kan?
Ku tahu temanku amat mengapresiasi karyaku yang sejatinya karyaku itu sederhana. Satu pengalaman yang luar biasa ini kubagikan agar teman-temanku, para penulis pemula tak takut berkarya, meski ada pengorbanan yang tak terelakkan, pengorbanan material spiritual. Insya Alloh banyak orang-orang baik di sekitar kita. Yang mengerti dan menghargai serta mendukung kita dalam berkarya. Eh, kalau pun ada diantara mereka yang nyinyir dan under estimate pada kita atau pada karya kita, oh… itu sudah biasa. Jalan tak selalu mulus untuk dilalui, Kawan…. Semoga Alloh memberikan kemudahan pada kita untuk terus berkarya, serta membalas kebaikan orang-orang di sekeliling kita dengan kebaikan yang berlipat ganda.
#JanganTakutBerkarya
#NeverGiveUp

EN, 10042019.

Komentari

News Feed