Terhubung dengan KAPOL

KOLOM

Dedikasi Guru Diuji

|

Oleh : Nana Suryana

Ketua Prodi PGMI Suryalaya Tasikmalaya

Menjadi guru adalah tugas dan pekerjaan yang tersulit di negeri ini demikian kata Nadiem Anwar Makarim, Mendikbud di era kabinet Indonesia maju. Mengapa sulit? Karena guru memiliki peran penting dalam menata kemajuan suatu bangsa ditengah-tengah kemorosotan moral dan akhlak bangsa. Melalui perannya guru bisa melahirkan orang-orang hebat, cerdas, dan berkarakter yang mampu menata masa depan bangsa lebih baik. Melalui guru pula suatu bangsa mampu bersaing kompetitif dengan negara lain di zamannya. Hal ini sejalan dengan pesan salah seorang pemenang nobel, Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah investasi masa depan.

Namun realitas menunjukan dibalik peran guru yang begitu berat dan mulia nampaknya belum berbanding lurus dengan penghargaan dan hak “finansial’’ yang diterimanya, terutama bagi guru-guru non PNS (honorer). Ada banyak guru honorer yang mengabdikan diri menjadi guru lebih dari 20 tahun. Mereka mengajar di daerah pedalaman (daerah 3T) dengan sarana prasarana pendidikan yang jauh dari kata memadai, tetapi mereka digaji kurang dari upah mimum regional (UMR) bahkan ada yang menerima gaji 100-300 ribu/bulan. Padahal secara profesional guru berhak memperoleh beberapa hal yaitu; penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan social, promosi dan penghargaan sesuai tugas dan prestasi kerja, perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual, memperoleh kesempatan meningkatan kompetensi. 

Kenyataan di atas memunculkan pesan bahwa di negeri ini (Indoensia) tengah terjadi kondisi yang amat mengkhawatirkan. Disatu pihak guru dituntut mamapu melaksanakan tugas keprofesionalanya, dipihak lain hak-hak guru belum terpenuhi. Pertanyaan kemudian apakah para guru harus berhenti mengabdi menjadi guru? Apa yang bisa dilakukan guru di tengah-tengah kurangnya penghargaan “finasial’’ ?

Dedikasi dan Pengabdian Guru

Secara teoretis guru adalah sebuah profesi atau pekerjaan yang ditandai dengan beberapa hal; adanya pengakuan dari pemerintah dan masyarakat, bidang pekerjaan mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bidang pekerjaan lain, memerlukan proses persiapan yang sistematis, memerlukan mekanisme seleksi rekruitemen, dan memiliki organisasi profesi.  Dalam UU No 14 tahun 2005 tentang Guru Dosen dinyatakan bahwa profesi adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran,  kecakapan, memenuhi  standar mutu atau norma tertentu, dan memerlukan pendidikan profesi. 

Guru dalam perspektif ulama sufi, Al-Imam Ibnu Athoillah Al-Askandary ra. menyebutkan bahwa hakikat guru bukanlah yang engkau dengar ceramah-cermah dari lisannya saja, tetapi guru adalah orang tempatmu mengambil hikmah dan akhlak. Guru juga bukan hanya mengajakmu ke pintu, tetapi guru adalah orang yang bisa menyikap hijab (pintu) antara dirimu dan dirinya. Sebuah tugas berat dibebankan kepada guru.

Lalu apakah hanya karena persoalan finansial dan hak yang kita terima belum memadai, kita akan berhenti menjadi guru? Tentu tidak, bagi guru profesinya adalah pekerjaan dilandasi tanggung jawab, kesetiaan, dan mendahulukan pelayanan kepada user (pengguna). Hal ini mengingatakan saya pada kisah seseorang pemimpin kharsimatik dari negeri matahari terbit (Jepang), yaitu kasar Toyotomi Hideyosi (abad-16). Dia pemimpian yang dikenal diseluruh Jepang,

Hideyosi lahir bukan dari keluarga kaya, dia tidak berwajah tampan, dan bukan pula orang berpendidikan. Dia memiliki wajah aneh sehingga temam-temanya menyebut dia monyet.. Dibalik kekurangnnya Hideyosi menjelma sebagai pemimpin Jepang yang sangat fenomenal. Mengapa? karena dia berhasil menyelesaikan perang saudara di negeri sakura ini.

            Suatu waktu dia mendapat tugas menjaga sandal majikannya, Lord Nobunaga. Setiap kali majikan memanggilnya, yang dipanggil bukan namanya tetapi memanggil dengan panggilan monyet, sebuah panggilan yang secara psikologis dan sosial sangat menyakitkan. Lalu apakah Hideyosi berhenti dari tugas itu? Tidak…..malah pada suatu sedang musim dingin yang hebat, Hideyosi sanggup menunggu majikannnya di luar rumah sambil mendakap sandal majikannya karena kedinginan. Ini dia lakukan karena dia takut sandal majikannya kedinginan. Mengapa Hideyosi sanggup melakukan pekerjaan dalam kondisi tekanan psikis dan sosial.

Kitami Masao dalam The Swordiess Samurai menjelaskan bagi Hideyosi pekerjaan adalah lahan untuk melayani sepenuh hati. Pekerjaan adalah sebuah sarana untuk mewujudkan dedikasi dan pengabdian. Baginya siapapun dan dari kalangan manpun mempunyai peluang yang sama dalam memperjuangkan cita-cita dan meraih kesuksesan dalam pekerjaan, asal mau berkerja keras, bertindak bearni, dan bersyukur. Semoga kisah ini mengispirasi dan menambah kekuatan serta spirit bagi para guru untuk terus mendediaksikan dan mengabdikan diri kepada anak didik dan negeri tercinta Indonesia. Tanamlah padi insya allah rumput jadi, tetapi jangan berharap padi tumbuh ketika kita hanya menanam rumput, begitu juga guru. Tanamkan niat dedikasi dan pengabdian, insya allah finansial akan mengiuti. Percayalah, rizki bukan ditangan pemerintah tapi ditangan Tuhan, Allah Swt.

Advertisement

Komentari