oleh

Gedang

Fiksi mini
Oleh: Eti Nurhayati

Perlahan- lahan aku mempelajari dan mengikuti semua yang ada di sekelilingku. Lingkungan yang baru mengharuskan aku untuk belajar mengenai segala hal, termasuk belajar Bahasa Jawa. Tak masalah bagiku, hal itu sudah kuperhitungkan sejak aku memutuskan kuliah di Semarang.
Tiga minggu telah berlalu, aku sudah mulai betah menjadi anak kost di kota yang udaranya cukup menyengat itu. Adaptasi di bulan pertama ini memang terasa agak sulit bagiku, terutama menghadapi gerah dan nyamuknya itu , lho. Hadeuh….Drakula itu menakut-nakutiku tiap malam, tapi rasakan saja, besok mereka akan menyerah karena darah dan dagingku pahit, umpatku dalam hati. ” Orang sunda mah pait daging pahang tulang”, selorohku pada Arum, teman kost- ku. Dia hanya menanggapinya dengan senyum, mungkin karena dia tidak mengerti bahasaku.
Hari demi hari, aku mulai akrab dengan kawan- kawan kost, terutama dengan Bu Kost yang sangat baik dan penuh perhatian padaku. Suatu hari, aku diajak Bu Kost ke Pasar Peterongan untuk belanja keperluan dapur. Di pasar, kami berpisah. Aku ditugaskan untuk membeli sayuran dan buah- buahan, sedang Bu Kost akan membeli ikan dan daging. ” Jangan lupa beli gedang, ya!”, katanya ketika kami berpisah. Aku menganggukkan kepala tanda setuju.
Sepulang dari pasar, kami membongkar barang- barang belanjaan. Ketika semuanya sudah dikeluarkan dari kantong belanjaan, dia bertanya padaku ” Mbak Indri, mana gedang yang saya pesan?”. Tanpa ragu- ragu aku langsung mengambil buah pepaya dan memberikan kepadanya. “Iki piye toh, wong aku kan pesennya gedang, malah tumbas kates”, gerutunya dengan nada suara tinggi. Kurasa dia marah padaku. Untung saja Mbak Reni datang. ” Ada apa, Bu?” tanyanya. Bu kost menjelaskan pada Mbak Reni tentang barang belanjaan. Mengetahui semua itu, Mbak Reni malah tertawa terpingkal- pingkal. Aku dan Bu Kost heran dibuatnya.” Bu…,gedang itu kalau dalam bahasa Sunda, ya kates, ha ha ha Indri…,gedang itu dalam bahasa Jawa berarti pisang, bukan pepaya. Kalian berdua gak ada yang salah kok, jelasnya sambil tertawa lagi. “Ibu lupa ya kalau Indri itu belum bisa bahasa Jawa, kan baru tiga minggu disini”, jelasnya kemudian.
Aku dan Bu kost melongo…
Kami diam membisu.
Beberapa saat kemudian…Meledaklah tawa kami.

EN,15102018.

Komentari

News Feed