Connect with us

KOLOM

Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah

|

By: Ilam Maolani

Potret negara ini sedang mengalami berbagai goncangan permasalahan yang sangat mengganggu jalannya proses pembangunan. Korupsi yang semakin marak, keteladanan para pemimpin yang semakin kropos, tumbuh suburnya pornografi dan pornoaksi, maraknya penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, perzinaan yang dianggap biasa, perampokan, perjudian, kekerasan, anarkisme, tawuran pelajar, bentrok antar warga, praktik politik yang tidak bermoral, tingginya angka kriminalitas, dan lain-lain. Di tambah dengan efek negatif adanya globalisasi informasi dan teknologi, serbuan budaya asing yang semakin deras, secara langsung maupun tidak langsung ikut berpengaruh terhadap munculnya berbagai problematika bangsa sehingga ikut serta menghambat lajunya pembangunan.

Penyebab utama dari adanya berbagai permasalahan di atas adalah  sebagian anak bangsa ini belum sepenuhnya mempunyai karakter baik yang menghormai nilai-nilai luhur dan mulia. Oleh karena itu pembangunan karakter bangsa (nation character building) merupakan sebuah keniscayaan yang dilakukan oleh semua pihak agar bangsa ini dapat menjadi bangsa yang berkarakter kuat. Sebagai salah satu upaya membangun karakter tersebut, maka pendidikan karakter sangat dibutuhkan, penting dan strategis.

Pendidikan artinya usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Bab I Pasal 1 ayat 1). Karakter adalah keseluruhan perasaan, sistem nilai, hasrat dan kehendak. Karakter secara luas diartikan sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian pendidikan karakter ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi manusia yang memiliki integritas perasaan, sistem nilai, hasrat, dan kehendak, sehingga cara berpikir dan berperilakunya selalu bijak, positif dan bertanggung jawab.

Mendidik karakter anak merupakan tanggung jawab bersama. Mesti ada kerjasama yang erat antara para pelaku pendidikan di lingkungan keluarga (orangtua), sekolah (kepala sekolah, guru, pembimbing, karyawan), masyarakat (tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan), dan pemerintah. Semua pihak memikul tanggung jawab melaksanakan pendidikan karakter.

Khusus di sekolah, maka peran kepala sekolah, para guru, pembimbing, dan  karyawan sangatlah urgen. Mereka memposisikan diri sebagai: 1) Orangtua kedua setelah di lingkungan keluarga, 2) Fasilitator (memberi kemudahan pada peserta didik dalam menanamkan karakter), 3) Motivator (memberikan dorongan kepada peserta didik agar menjadi orang yang berkarakter baik), 4) Model yang dijadikan contoh teladan atau rujukan perilaku bagi peserta didik, 5) Inspirator bagi peserta didik.

Ada beberapa metode dalam mendidik karakter seseorang, yaitu: Keteladanan, Pembiasaan, Latihan, Ibrah/Mauidzah (tutur kata yang berisi nasihat-nasihat dan pengingatan tentang baik buruknya sesuatu), Dialog, Kisah/Sejarah, Targhib (janji), Tarhib (ancaman), Tamsil (perumpamaan), Dan lain-lain.

Terdapat 18 indikator manusia yang berkarakter, antara lain:

1. Religius: Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur: Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi: Sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin: Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras: Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6. Kreatif:  Berpikir dan melakukan sesuatu untuk  menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri:  Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis: Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan: Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air: Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12. Menghargai Prestasi: Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,  mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/ Komunikatif: Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14. Cinta Damai: Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15. Gemar Membaca: Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan: Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial: Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung jawab: Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila ditelaah secara mendalam dan komprehensif, dalam Islam sesungguhnya pendidikan karakter termasuk ke alam pendidikan akhlak. 14 abad yang lalu Islam telah membahas tentang pentingnya pendidikan akhlak. Terdapat banyak ayat Al-Quran yang membahasanya, seperti: Surat Al-Ahzab ayat 21, Al-Qalam ayat 4, At-Tahrim ayat 6, An-Nisa ayat 9, Luqman ayat 18-19). Bahkan ditambah dengan beberapa hadits tentang akhlak, seperti: Orang mumin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikan anak itu sebagai Yahudi, nasrani, atau majusi..

Pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam, sebab tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak. Athiyah Al-Abrasyi dalam bukunya At-Tarbiyyatul Islamiyyah, mengatakan bahwa Para ahli pendidikan Islam telah sepakat bahwa maksud dari pendidikan bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka tahu, tetapi maksudnya adalah mendidik akhlak dan jiwa mereka dengan menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci, ikhlas, dan jujur. Maka tujuan utama pendidikan Islam ialah menidik budi pekerti dan pendidikan jiwa.

Implementasi Faktual Pendidikan Karakter di Sekolah antara lain:
1. Religius, contoh: memiliki fasilitas untuk beribadah, memberi kesempatan peserta didik untuk melaksanakan ibadah, kebiasan berdoa, mengaji, senyum sapa salam, menjaga kebersihan.

2. Jujur, contoh: Transparansi laporan keuangan dan penilaian sekolah secara berkala, menyediakan kantin kejujuran, menyediakan kotak saran dan pengaduan, larangan membawa alat komunikasi pada saat ulangan atau ujian, menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang, larangan menyontek.

3. Toleransi, contoh:  menghargai dan memberikan perlakuan dan pelayanan yang sama kepada semua warga sekolah, menghargai dan memberikan perlakuan yang sama kepada semua stakeholders, menghormati dan menghargai perbedaan.

4. Disiplin, contoh: memiliki catatan kehadiran, membiasakan hadir tepat waktu, memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang  berdisiplin, memiliki tata tertib sekolah, menegakkan aturan, menggunakan pakaian sesuai dengan ketentuan.

5. Kerja keras, contoh: menciptakan suasana kompetisi yang sehat, menciptakan kondisi etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar, memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar,.

6. Kreatif, contoh: menciptakan siatuasi yang menumbuhkan daya berpikir dan bertindak kreatif, pemberin tugas yang menantang munculnya karya-karya baru.

7. Mandiri, contoh: menciptakan situasi yang mengerakkan anak didik untuk belajar dan bertindak secara mandiri.

8. Demokratis, contoh: melibatkan warga sekolah dalam mengambil keputusan, menciptakan suasana sekolah yang menerima perbedaan, pemilihan ketua organisasi santri secara terbuka, mengambil keputusan dengan musyawarah mufakat, mengimplementasikan model dan metode pembelajaran yang dialogis dan interaktif.

9. Rasa ingin tahu, contoh: menyediakan media komunikasi atau informasi untuk berekspresi bagi warga sekolah, memfasilitasi warga sekolah untuk bereksplorasi dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, menciptakan suasana pembelajaran yang mengundang rasa ingin tahu.

10. Semangat kebangsaan, contoh: memiliki program melakukan kunjungan ke tempat bersejarah, mengikuti lomba pada hari besar nasional, bekerja sama dengan teman sekelas yang berbeda suku, etnis, status sosial-ekonomi, mendiskusikan hari-hari besar nasional.

11. Cinta Tanah Air, contoh: menggunakan produk buatan dalam negeri, menyediakan informasi  (dari sumber cetak, elektronik) tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

12. Menghargai Prestasi, contoh: memberikan penghargaan atas hasil prestasi kepada warga sekolah, memajang tanda-tanda penghargaan prestasi, menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi.

13. Bersahabat/ Komuniktif, contoh: suasana sekolah yang memudahkan terjadinya interaksi antarwarga sekolah, berkomunikasi dengan bahasa yang santun, saling menghargai dan menjaga kehormatan, pergaulan dengan cinta kasih dan rela berkorban,  pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik, pembelajaran yang dialogis, guru mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik, dalam berkomunikasi guru tidak menjaga jarak dengan peserta didik.

14. Cinta Damai, contoh: menciptakan suasana sekolah dan bekerja yang nyaman, tenteram, dan harmonis, membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan, perilaku seluruh warga sekolah yang penuh kasih sayang.

15. Gemar Membaca, contoh: kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya, program wajib baca, frekuensi kunjungan perpustakaan, menyediakan fasilitas dan suasana menyenangkan untuk membaca, saling tukar bacaan, pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi.

16. Peduli Lingkungan, contoh: pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah, tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan, menyediakan kamar mandi dan air bersih, pembiasaan hemat energi, membuat biopori di area sekolah, membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik, melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan anorganik, menyediakan peralatan kebersihan.

17. Peduli  Sosial, contoh: memfasilitasi kegiatan bersifat sosial, melakukan aksi sosial, menyediakan fasilitas untuk menyumbang, berempati kepada sesama teman kelas, melakukan aksi sosial, membangun kerukunan warga kelas.

18. Tanggung jawab, contoh: membuat laporan setiap kegiatan  yang dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis, melakukan tugas tanpa disuruh, menunjukkan prakarsa untuk mengatasi masalah dalam lingkup terdekat, menghindarkan kecurangan dalam pelaksanaan tugas.

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Komentari