Connect with us

SISWA

Miniatur Nusantara di Pangandaran

Lebih Dari 500 Orang Ikuti Festival 28 Bahasa di SMK Bakti Karya Parigi

|

Lebih dari 500 orang mengikuti Festival 28 Bahasa dengan tema “Pemuda Berkarya Merawat Budaya”. Acara itu merupakan ajang memeriahkan 90 Tahun Sumpah Pemuda dan memperingati bulan bahasa di SMK Bakti Karya Parigi.

Terdapat banyak kegiatan yang menjadi rangkaian acara, diantaranya Orasi 28 bahasa suku lokal mulai dari Aceh hingga Papua. Mereka adalah siswa SMK Bakti Karya Parigi yang terpilih sebagai peserta program Kelas Multikultural.

Terdapat juga pameran rumah adat, makanan tradisional, berbagai pernak-pernik kebudayaan Nusantara. Dilengkapi dengan baju adat dari 28 suku di Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Pangandaran Undang Sohbarudin yang hadir dalam rangkaian acara tersebut menuturkan bahwa ini acara pertama di Pangandaran yang melibatkan suku budaya hingga 28 suku. Baginya, ini sejalan dengan semangat pariwisata yang menjadi visi Kabupaten Pangandaran.

“Kami turut bangga dan mendukung inisiatif yang menghadirkan siswa dari berbagai pelosok negeri untuk mengenalkan kekayaan bangsa yang tak ternilai. Tentu saja, kami bangga karena sejalan dengan apa yang pemerintah cita-citakan” katanya dalam sesi saat mengisi dialog budaya.

Dipentaskan pula berbagai pertunjukan tari tradisional, teater dan puisi. Selain itu, ada pemutaran film dan karnaval. SMK Bakti Karya Parigi, tepatnya Desa Cintakarya Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, Senin-Selasa, 29-30/10/2018 menjadi miniatur Indonesia.

Panitia acara yang juga Kepala Sekolah SMK Bakti Karya Parigi Irpan Ilmi menuturkan bahwa acara ini menjadi arena aktualisasi diri siswa dan warga, juga menjadi spirit merawat toleransi di Indonesia.

“Kita ingin buktikan bahwa Jawa Barat yang terkenal dengan provinsi intoleran, tidak terbukti di sini. Kami menerima, mengapresiasi, memberi tempat dan melindungi kebhinekaan” jelas Irpan.

Acara yang turut didukung Indika Foundation, Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, Kampung Nusantaran serta Komunitas Belajar Sabalad tersebut juga melibatkan aktivis Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) yang turut berorasi dengan bahasa isyarat pada acara tersebut. Dikutip dari IG @Pesertadidik.smk “Dalam rangka memperingati bulan bahasa, ada yang keren nih dari @smkbaktikaryaparigi, Yuk check this out!”

Ketua Yayasan Darma Bakti Karya yang memberikan sambutan pada acara itu menegaskan bahwa kehadiran aktivis tuli di tengah acara itu menjadi bukti bahwa sekolah ini inklusif. Sehingga siapapun dapat bergabung merawat toleransi.

“Kami ucapkan terima kasih pada aktivis tuli yang telah memberi perspektif baru pada kaum dengan agar kita lebih peduli pada sesama kita. Walaqod karromna bani aadam.. Tuhan saja memuliakan manusia, kenapa kita masih malu-malu?” ungkap Ai saat ditemui oleh wartawan kabarsekolah.id.

__

Di sebelah kiri Jujun sebagai MC dari Sunda dan Kanan Riko sebagai MC dari Aceh

Red. Rahmat Hidayat

Editor/Pans

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung