Terhubung dengan KAPOL

KOLOM

Ketika Kentut Dianggap Lebih Dimaklumi Daripada Bersin dan Batuk

|

Dalam perspektif logika dan realita, sebelum merebak virus Corona, bersin dan batuk di tengah kerumunan orang atau di saat berkumpul dianggap sebagai sesuai yang biasa-biasa saja. Tidak ada rasa curiga kepada orang yang bersin dan batuk. Bahkan terkadang mereka ditatap sekilas tanpa ada syak wasangka.

Sebaliknya, apabila sedang berkumpul dan kebetulan temannya kentut, mendadak semuanya ‘heboh’, ribut, saling menuduh siapa yang kentut, bahkan secepat kilat terkadang loncat menghindar karena tidak kuat baunya. Seringkali orang agak ‘memarahi’ pada yang kentut.

Tapi kejadian itu ‘dulu’. Kini, peristiwa itu direspon agak berbeda. Apabila dikerumunan atau tempat berkumpul ada orang yang bersin dan batuk, maka mendadak orang tersebut ditatapnya, dijauhi, bahkan bisa jadi dimarahi karena bersin dan batuknya tidak memakai sapu tangan atau masker sedangkan jarak duduk dengan warga lain sangat dekat. Orang itu dicurigai terjangkit Virus Corona.

Sementara itu jika ada yang kentut dianggap sebagai sesuatu yang biasa, memang agak menghindar karena ada baunya, tapi tidak dimarahi, bahkan bisa jadi dimaklumi.

Fenomena kekinian di atas dipandang wajar atau lumrah, sebab menurut beberapa ahli, salah satu ciri orang terkena gejala Virus Corona pada awalnya sering bersin dan batuk. Secara otomatis sekarang ini apabila ada orang yang bersin dan batuk, plus orang tersebut baru pulang dari zona merah, maka patut ‘dicurigai’ sebagai orang yang mungkin mengidap gejala terjangkit Virus Corona.

Namun demikian, kecurigaan itu sebaiknya tidak lantas menyebabkan keributan, kepanikan, bahkan jangan sampai saling membenci dan terputus silaturahmi. Waspada atau hati-hati memang perlu.

Teringat pada pepatah orangtua bahwa bersyukurlah jika kita bersin dan kentut. Mengapa demikian? Karena sungguh kita merasakan kenikmatan setelah bersin dan kentut. Mungkin Anda pernah merasakan betapa ‘hanjelu’ atau menyesal jika kita bermaksud bersin tapi tidak jadi. Bagaikan ada kenikmatan yang tertahan disalurkan. Pun ada orang yang tidak mampu beberapa hari kentut justru dioperasi di rumah sakit agar dia mampu mengeluarkan ‘angin’ dari duburnya.

Dalam perspektif jenaka, bersin, batuk, dan kentut memiliki manfaat yang luar biasa. Seorang maling atau pencuri akan berpikir ulang untuk mencuri malam-malam pada suatu rumah karena ternyata di rumah tersebut ada yang bersin dan batuk. Pertanda di rumah itu ada orang yang sedang ‘terjaga’. Dikarenakan ada suara bersin dan batuklah para pencuri mengurungkan niat untuk mencuri.

Orang yang bersin dan batuk, apalagi sampai batuknya ‘ngehkeh’ atau parah, biasanya berefek pada posisi badan membungkuk ke bawah sambil tangan tidak sengaja memegang sesuatu, memegang batu di atas tanah misalnya. Kondisi itu sebenarnya sangat menguntungkan bagi yang batuk, karena jika ada anjing yang mengejarnya maka anjing akan lari ketakutan sebab disangka orang tersebut memegang batu, akan melempar anjing. Maka anjing akhirnya lari terbirit-birit. Selamatlah orang yang batuk.

Terakhir tentang kentut. Masih dalam perspektif jenaka. Kentut sejatinya bermanfaat bagi pembiasaan kejujuran. Kita tahu bahwa tidak sedikit orang yang mengatakan,”Saat ini kejujuran merupakan ‘barang’ langka.” Apabila orang yang kentut jujur menyatakan bahwa dialah tadi yang kentut, maka sebenarnya ia memiliki karakter yang perlu dijaga dan dipelihara, yaitu perilaku jujur.

Kentut juga dapat menguji kualitas indera pendengaran dan penciuman seseorang apakah masih berfungsi atau tidak, masih normal atau tidak. Bagi yang memiliki indera pendengaran normal, jika ada orang yang kentut dan kentutnya bersuara maka orang yang duduk di sampingnya akan mendengarnya dengan jelas. Bagi yang memiliki indera penciuman yang ‘fungsional’, apabila ada orang yang kentut dan kentutnya bau, maka ia akan merasakan baunya.

Alhasil, jika ada orang yang kentutnya bersuara dan bau, sementara orang yang duduk disebelahnya tidak bereaksi apa-apa, maka indera pendengaran dan penciuman orang tersebut patut dipertanyakan apakah normal atau tidak.

Advertisement

Komentari