Kiat Menjadi Orangtua Idola

Oleh: Nana Suryana

Seiring kemajuan zaman yang serba cepat, anak-anak dihadapkan pada berbagai perubahan baik sosial, politik, ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi, industri, lingkungan dan lainnya. Lingkungan keluarga dituntut mampu menstimulasi berbagai potensi anak dengan berbagai kegiatan yang mampu merangsang seluruh potensinya serta dibekali dengan berbagai kompetensi agar dapat menghadapi tantangan zaman. Derasnya media teknologi dan informasi mampu melululantahkan tatanan sosial dalam keluarga. Peran dan fungsi orang tua nyaris tidak berfungsi. Tidak sedikit anak yang tidak lagi mau mendengar nasehat orang tua. Orang tua tidak lagi menjadi tempat “curhat” yang nyaman bagi anak-anak. Sesekali berkumpul bersama keluarga, masing-masing sibuk dengan aktivitasnya terutama “gadget”nya. Semua itu terjadi berawal dari rendahnya kualitas komuniaksi dan perhatian orang tua dalam keluarga.

Sejatinya keluarga merupakan suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perlakuan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan merupakan faktor penting dalam mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang paripurna. Keluarga yang mampu melahirkan anak paripurna adalah keluarga yang berfungsi dengan baik. Fungsi-fungsi tersebut adalah (1) biologis, (2) ekonomis, (3) pendidikan (edukatif), (4) perlindungan (protektif), (5) sosialitatif, (6) rekreatif, (7) agama (religius) (Yusuf, 2007). Oleh karenanya upaya apapun yang dilakukan orang tua seharusnya berfokus pada upaya memfasilitasi perkembangan individu anak sesuai dengan nilai-nilai, baik nilai agama maupun sosial.

Kiat Menjadi Orangtua Idola
Untuk menjadi orang tua idola bagi anak, ada dua hal penting yang harus dilakukan orang tua. Pertama terapkan pola komunikasi yang efektif dalam keluraga. Pola komunikasi ini ditandai dengan komunikasi yang; a) Menimbulkan pengertian. Pesan yang disampaikan oleh orang tua harus mampu diterima oleh anggota keluraga dengan cermat sehingga apa yang disampaikan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh komunikator (orang tua). Kegagalan anak dalam menerima pesan akan menimbulkan salah persepsi terhadap isi dan akan membahayakan baik bagi orang tua maupun anggota keluraga yang lain; b) Menimbulkan kesenangan. Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Ketika orang tua mengucapkan Selamat Pagi anak-anak!, apa kabar ?, kita tidak bermaksud mencari keterangan. Komunikasi itu hanya dilakukan untuk mengupayakan agar anak merasa apa yang disebut senang. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan lebih hangat, akrab, dan menyenangkan. Dalam lingkungan keluarga komunikasi itu mutlak diperlukan untuk membangun hubungan antara anggota keluarga menjadi lebih akrab, hangat, dan menyenangkan; c) Mempengaruhi sikap. Komunikasi dalam keluarga selain untuk menimbulkan pengertian dan kesenangan bagi anggotanya juga penting mampu mempengaruhui sikap anggota keluarga; d) Menimbulkan hubungan sosial yang baik. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), dan cinta serta kasih saying (affection); e) Melahirkan tindakan. Orang tua sering mengalami kesulitan untuk merubah tidakan anaknya ke arah yang lebih baik. Ketika orang tua mengingatkan, kadang anaknya justru pergi, acuh tak acuh, dan sebagainya (Rahmat, 2008).

Kedua penerapan gaya perlakuan terhadap anak. Perlakuan atau pengasuhan terhadap anak merupakan salah satu unsur pembinaan lainnya dalam pribadi anak. Perlakuan keras misalnya akan berlainan akibatnya dengan perlakuan lembut dalam pribadi anak. Hubungan yang harmonis, penuh pengertian dan kasih sayang, akan membawa dampak yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak yang tenang, terbuka dan mudah dididik, karena ia mendapat kesempatan yang cukup dan baik untuk tumbuh dan berkembang. Hubungan yang tidak harmonis, banyak perselisihan dan percekcokan akan membawa anak ke pertumbuhan pribadi yang sukar dan tidak mudah dibentuk, karena ia tidak mendapatkan suasana yang kondusif untuk berkembang. Untuk membina keakraban anak dan orang tua, bukan hanya kasih sayang yang dibutuhkan anak. Anak memerlukan adanya rasa aman dan nyaman, terutama tatkala ia sedang dalam masa pertumbuhan. Anak harus merasa aman di rumah, di luar rumah dan sekolah. Bila di rumah tidak nyaman, maka anak akan mencari rasa aman dan nyaman itu di tempat lain. Jika ia tidak nyaman di sekolah maka ia akan malas sekolah.

Gaya perlakuan (parenting style) adalah cara yang digunakan orang tua dalam memperlakukan anak dan bersifat konsisten. Sikap dan perlakuan yang hangat, kasih sayang, atau penuh perhatian dapat mengembangkan kepribadian anak yang sehat dan keterampilan berinteraksi yang baik dan akan menyebabkan anak mampu menuntaskan tugas perkembangannya. Sebaliknya gaya perlakuan (parenting style) yang bersifat dingin, kaku atau keras dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam menuntaskan perkembangannya, khususnya dalam berinteraksi dengan orang lain. Secara teori ada tiga gaya perlakuan dalam keluarga. Pertama authoritarian. Gaya perlakuan ini ditandai dengan beberapa hal yaitu ; (a) sikap acceptance rendah, namun kontrol yang tinggi, (b) suka menghukum secara fisik, (c) bersikap mengomando (mengharuskan /memerintahkan anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi), (d) bersikap kaku (keras), dan (e) cenderung emosional dan bersikap menolak.

Penerapan gaya perlakuan ini akan melahirkan sikap perilaku anak sebagai berikut ; (a) mudah tersinggung, (b) penakut, (c) pemurung, tidak bahagia, (d) mudah terpengaruh, (e) mudah stres, (f) tidak mempunyai arah masa depan yang jelas, dan (g) tidak bersahabat. Kedua permessive. Melalui gaya ini orang tua menerapkan sikap ; (a) acceptance-nya tinggi, namun kontrolnya rendah, (b) memberi kebabasan kepada anak untuk menyatakan dorongan/keinginannya. Penerapan gaya ini akan melahirkan perilaku anak sebagi berikut; (a) bersikap implusif dan agresif, (b) suka memberontak, (c) kurang memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri, (d) suka mendominasi, (e) tidak jelas arah hidupnya, (f) prestasinya rendah.

Ketiga Authoritative. Sikap orang tua dalam memperlakukan anak dengan ; (a) sikap acceptance-nya tinggi, namun kontrolnya tinggi, (b) bersikapnya responsif terhadap kebutuhan anak, (c) mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan, dan (d) memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan buruk. Penerpan gaya ini akan melahirkan perilaku anak yang ; (a) bersikap bersahabat, (b) memiliki rasa percaya diri, (c) mampu mengendalikan diri (self control), (d) bersikap sopan, (e) mau bekerjasama, (f) memiliki rasa ingin tahunya yang tinggi, (g) mempunyai tujuan/arah hidup yang jelas, (h) berorientasi terhadap prestasi.

*Ketua Prodi PGMI Suryalaya dan Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Dasar SPS UPI
Bandung.

Komentari