oleh

Kisah Syifa dan Puteri Burung

Oleh: Eti Nurhayati

Hari minggu yang cerah. Pagi itu Syifa menyapu lantai teras, dari depan hingga belakang rumah. Sambil menyapu ia asik bersenandung lagu kesukaannya.
Begitulah kebiasaan anak gadis ini, setiap hari ia senang bantu bersih-bersih rumah.
Secepat kilat matanya tertuju pada tumpukan daun kering di kebun belakang rumah, karena ada suara disana. Segera didekatinya suara itu, ternyata seekor burung yang menggelepar-gelepar kesakitan. Sayapnya yang sebelah kiri nampak berdarah.
” Kau kenapa, Sayang? pasti kena ketepel Si Anto, ya? ” ia bicara sendiri sambil memungut burung itu. Burung itu dibawanya ke dalam rumah. Ia membuka laci lemari, mengaduk-ngaduknya seperti mencari sesuatu.
“Kak Rita, dimana perban?”, teriaknya sambil mengambil obat luka.
“Gak tahu”, jawab Rita dari kamarnya.
“Aduh, dimana ya, biasanya kan disini? “, teriaknya lagi, ia benar-benar panik. Bu Laili menghampirinya.
“Kenapa, Kau terluka?”, tanyanya sambil mengamati anaknya.
“Nggak Bunda, burung ini yang sakit, lihat nih”, Jawabnya sembari memperlihatkan burung yang baru ditemukannya. Bu Laily bergegas ke kamarnya, mengambil perban dan diberikannya pada Syifa. Tak ditunda-tunda lagi, Syifa mengobati luka burung itu dengan penuh kasih sayang. Sambil diajak bicara layaknya manusia.
Burung itu nampak nyaman bersamanya.
Waktu terus berlalu . Siang dan malam terus bergantian. Tak terasa, burung itu telah sembuh dan lincah kembali. Syifa yang baik hati telah dengan sabar merawatnya.
Suatu pagi, ketika Syifa kembali dari kamar mandi, ia mendapati tempat tidurnya yang sudah tertata rapi, wangi lagi. Ia terheran-heran, siapa gerangan yang telah membereskan kamarnya, padahal tadi ia meninggalkannya dalam keadaan berantakan. Ia hendak menemui kakaknya Rita untuk berterima kasih, tapi Rita masih terbaring di tempat tidurnya. Segera ia pun menuju dapur, dilihatnya Bu Laily sedang sibuk memotong-motong sayuran. Lantas siapa? Ia makin penasaran. Apakah Ayahnya telah pulang dari kota? Ia menuju kamar orangtuanya, tapi kosong. Di kepala gadis itu tersimpan teka teki yang belum terpecahkan.Hari hari berikutnya, peristiwa yang sama terulang lagi. Tapi, Syifa sudah tidak peduli lagi tentang siapa yang selalu membereskan tempat tidurnya. Dan seperti biasanya Syifa senang bermain-main dengan burung kesayangannya yang ia panggil dengan nama Pita.
Suatu hari Pita kelihatan lemah, ia tidak mau makan dan minum. Syifa sedih melihatnya. ” Kenapa Kau, Pita? “, hening tak ada jawaban, Pita tidak bersuara sedikit pun.
” Pita, Kau sakit, ya? “, tanya Syifa lagi sambil mengusap-ngusap kepala Pita.
Syifa terperanjat, ia kaget karena tanpa disangka, Pita menjawab: ” Aku tidak sakit, sahabatku, aku hanya sedih karena aku harus kembali”.
“Kau…Kau… Siapa? ” Syifa bertanya sambil menjauh dari Pita. “Ini aku, sahabatku”, kata burung itu sambil mengepakkan sayapnya. Tiba-tiba berdiri di hadapan Syifa, seorang putri yang cantik.
Mulut Syifa menganga, dia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Tapi…Tapi… Siapa kau?” tanya Syifa sambil terus mundur menjauhi putri itu.
“Aku Puteri Burung yang disiksa oleh kakakku yang jahat, aku dibuang olehnya. Kini aku harus pulang kembali ke tempat asalku, untuk menegakkan keadilan. Aku tidak mau kakakku berbuat jahat pada yang lainnya, seperti yang telah ia lakukan padaku”, jawab puteri burung. “Untuk menemanimu aku berikan kau seekor burung yang baru”, kata Sang Puteri lagi sambil memberikan seekor burung pada Syifa.
Mereka berpelukan, pelukan perpisahan.
Tapi Sang Puteri berjanji, sesekali akan datang mengunjungi Syifa, sahabatnya.

#ChallengeRumpunAksara
#BelajarNulisDongeng

Sumber gambar dari google. Publicdomainvektors.org

Komentari

News Feed