“Melatih Keterampilan Berbicara Melalui Menjadikan Pengalaman Sebagai Tema Percakapan “

Oleh : Sugiarti, S. Pd.

Guru SDN Singkup

Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya

Keberhasilan proses belajar mengajar tergantung dari beberapa faktor, antara lain guru, siswa, kurikulum, teknik, pendekatan dan bahan pengajaran. Dari beberapa faktor tersebut, salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan adalah guru. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip berbagai teknik pembelajaran, baik yang bersifat tradisional maupun yang bersifat modern yang dapat disesuaikan dengan kurikulum.

Salah satu keterampilan Bahasa Indonesia yang harus dikuasai oleh siswa di kelas rendah adalah keterampilan berbicara, meskipun tidak secara jelas menyuratkan hal tersebut tetapi sebagaimana pada KTSP 2006, pada kurikulum 2013 keterampilan berbicara juga dapat ditemui pembelajaran yang bertujuan meningkatkan keterampilan berbicara anak. Pembelajaran keterampilan berbicara di kelas satu dan dua sepenuhnya ditekankan pada segi mekaniknya, artinya jenis keterampilan berbicara yang dilatihkan adalah jenis bercakap-cakap secara berpasangan dengan tujuan utama mendidik siswa agar dapat bertanya jawab secara lisan dengan temannya. Bentuk percakapan di kelas rendah adalah bentuk sederhana diantaranya (a) Bercakap-cakap dengan lafal yang tepat, (b) Bercakap-cakap dengan intonasi yang tepat, (c) Bercakap-cakap dengan kosa kata yang tepat, dan (d) bercakap-cakap dengan kalimat yang tepat.

Beberapa pengalaman penulis, materi bercakap-cakap merupakan materi yang penting, karena materi ini selain pemerolehan kosa kata juga dapat dimanfaatkan untuk melatih rasa percaya diri siswa. Karena percakapan paling tidak dilakukan oleh dua orang sehingga hal tersebut dapat mendorong siswa untuk berani tampil.

Melatih keterampilan berbicara di kelas I pun cukup banyak tantangannya, selain karena kosa kata mereka yang masih terbatas, tantangan lainnya lebih sering bersifat psikologis, seperti yang disampaikan Mulyati. (dalam Diagnosa Kesulitan Belajar, 2010:163) ada tiga faktor penyebab gangguan  dalam kegiatan berbicara, yaitu: (a) Faktor fisik, yaitu faktor yang ada pada partisipan sendiri dan faktor yang berasal dari luar partisipan; (b) Faktor media, yaitu faktor linguitisk dan faktor nonlinguistik, misalnya lagu, irama, tekanan, ucapan, isyarat gerak bagian tubuh; dan, (c) Faktor psikologis, kondisi kejiwaan partisipan komunikasi, misalnya dalam keadaan marah, menangis, dan sakit.

Untuk menyikapi tantangan yang ada, guru berusaha menyesuaikan materi pembelajaran, dengan situasi dan kondisi siswa. Jangan sampai siswa yang belum pernah melihat tugu Monas (Monumen Nasional) di Jakarta diminta untuk melakukan percakapan tentang itu. Di samping itu , juga siswa yang rumah neneknya dekat dengan rumah siswa itu, diminta untuk melakukan percakapan‘berlibur di rumah nenek’.

Salah satu upaya guru untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui percakapan adalah dengan menjadikan pengalaman siswa sebagai objek percakapan diantaran mereka. Dengan menceritakan pengalaman, siswa terlihat lebih natural, percaya diri dan mereka seakan memiliki”naskah” sendiri dalam melakukan percakapan. Tetapi tentu saja pengalaman yang dijadikan objek harus disesuaikan dengan tema percakapan yang sedang dipelajari. Memang tidak semua anak memiliki pengalaman sesuai dengan tema, tetapi sejauh ini, karena memang tema pada pelajaran biasanya dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, sehingga pengalaman mereka pun tidak jauh berbeda dengan tema pada materi.

Latiahan percakapan  dengan tema pengalaman dapat menggairahkan siswa dalam belajar, hal ini disebabkan bahwa bercerita pengalaman adalah hal yang pernah dialami oleh siswa, sehingga siswa seakan berbagi cerita dengan temannya. Sebagaimana kata Bukian (2004:1) dalam penelitiannya tentang metode pengajaran berbicara, “Anak-anak kelas 1 SD akan senang apabila disuruh menceritakan sebuah pengalaman ”. Dengan demikian maka dapatlah dikatakan bahwa mengajar melalui bercerita pengalaman dampaknya siswa akan merasa termotivasi untuk melakukan kegiatan bercakap-cakap dalam berbagi pengalaman dengan temannya.

Pengalaman penulis, keterampilan berbicara di kelas I cukup berhasil dengan menggunakan strategi percakapan dengan tema pengalaman, siswa merasa termotivasi, tidak telalu terpaku pada naskah percakapan, lebih natural, pelafalan dan intonasi mereka pun lebih teratur karena mereka mengalami sendiri, tugas guru lebih pada meluruskan kosa kata yang diucapkan oleh mereka agar sesuai dengan kosa kata baku Bahasa Indonesia.

Komentar