Connect with us

RESENSI

Menuju Kesalehan Integral

|

Judul Buku            : SALEH RITUAL SALEH SOSIAL
(Kualitas Iman, Kualitas Ibadah dan Kualitas Akhlak Sosial)
Penulis                   : K.H. A. Muatofa Bisri (Gus Mus)
Penerbit                 : Diva Press
Tahun Terbit          : 2016
Tebal                     : 204 halaman
ISBN                     : 978-602-279-203-1

Masyarakat Indonesia pasti sudah sangat mengenal pada sosok ulama besar yang sangat arif bijaksana yaitu K.H Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil dengan Gus Mus. Ulama karismatik asal rembang, seorang ulama, penyair, budayawan yang alim tinggi ilmunya akan tetapi selalu tawadu rendah diri dalam berbagai hal. Kearifan beliau belum lama ini ditunjukan kepada kita semua ketika seorang anak muda jauh dibawah beliau menghina di media sosial, begitu mudah dimaafkannya bahkan sebelum diminta Gus Mus telah memafkannya. Bahkan Gus Mus meminta agar pemuda yang menghinanya jangan dipecat. Kemudian Gus Mus memberikan nasihat agar kejadian tersebut dijadikan bahan pelajaran agar kita semua tidak boleh mudah emosi dan marah. Bahkan kejadian tersebut dianggap sebagai ujian dari Allah akan kesabaran beliau. Itulah salah satu kebijaksanaan yang harus menjadi keteladanan bagi kita semua.

Melalui buku ini Gus Mus kembali memberikan tausiah atau nasihat-nasihatnya. Bagaimana menjadi seorang muslim yang sholeh dan taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Dan kesalehannya itu tercermin dalam prilaku sosial kehidupanya sehari-hari dalam bermasyarakat. Sehingga orang yang saleh tidak hanya melaksanakan solat, zakat, puasa serta berhaji akan tetapi semua ritual keagamaan itu harus berdampak dan bernanfaat bagi orang banyak. Jangan sampai seperti yang disebutkan dalam buku ini segala sholat kita, zakat kita, puasa kita, haji kita dzikir kita, hanya sebatas ritual semata tanpa makna mendalam dalam jiwa. (hal 36)

Lebih lanjut Gus Mus mengatakan bahwasannya dalam Islam tidak ada istilah saleh ritual dan saleh sosial seperti istilah yang saat ini berkembang. Dikotomik tersebut sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan beragama di kalngan umat muslim. Padahal sejatinya kesalehan dalam Islam hanya satu yaitu kesalehan muttaqi (hamba yang bertakwa). Kesalehan yang mencakup sekaligus ritual dan sosial (Integral). (hal 37).

Berbagai tulisan Gus Mus dalam buku ini sarat makna untuk menjadi bahan pelajaran kita semua, ditulis mengalir sederhana sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari. Gus Mus banyak mengutip ayat, hadis dan kata mutiara penting sebagai pengutan. Misalnya dalam salah satu judul tulisan yang berjudul”Ndompleng Nama Ortu” bahwasanya seorang pemuda jangan sampai mengekor kesuksesan orang tua. Tujukan kehebatan kebesaran diri sendiri, jangan sampai kehebatan dan kebesaran seorang pemuda tenggelam oleh nama besar orang tuanya. Dalam tulisan tersebut Gus Mus mengutip kata mutiara yang terkenal dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib yaitu “Laisal-fata man yaqulu kana abi, wainna mal-fata man yaqulu ha ana dza: yang artinya pemuda sejati bukanlah yang selalu berkata, ‘ayah saya adalah….’.Pemuda sejati adalah orang yang senantiasa berkata’inilah aku’. (hal 164).

Dalam bab lain Gus Mus menulis tentang kemuliaan nabi besar Muhammad saw, yang sangat menjunjung tinggi nailai-nilai kemanusiaan dan sangat manusiawi dalam membawa ajaran Islam. Bagaimana Gus Mus menceritakan mulianya baginda nabi Muhammad saw, ketika beliau kedatangan rombongan orang-orang yahudi menghadap dan sengaja memberi salam kepada nabi Muhammad saw dengan ucapan salam, Assamu ‘alaikum yang artinya “kematian bagimu” bukan Assalamu ‘alaikum yang artinya “semoga keselamatan bagimu”. Sayyidatina Aisyah ra, yang saat itu berada disamping rasulallah langsung mengatakan, “Bal ‘alaikumussam wal la’nah” yang artinya “sebaliknya, bagi kamulah kematian dan laknat”. Namun apa yang terjadi mendengar itu rasulallah menegurnya “ ‘Aisyah, Allah menyukai kehalusan dalam segala hal. Kemudian ‘Aisyah mengatakan “Apa rasulallah tidak mendengar ucapan mereka?” lalu rasulallah mengatakan “kan aku sudak menjawab’Wa’alaikum!’ yang artinya bagimu juga. (hal 45).

Itulah kemuliaan baginda rasulallah saw, begitu sangat menghargai sisi-sisi kemanuisaan dengan siapapun tanpa memandang asal-usulnya. Gus Mus mengatakan dalam tulisan ini bahwasannya keistimewaan nabi Muhammad saw yang paling menonjol dan sulit ditiru oleh pemimpin lain adalah kemanusiaannya. Nabi Muhammad Saw adalah manusia paling manusiawi yang paling mengerti dan menghargai manusia. (hal 46).

Terlihat benar betapa buku ini ditulis oleh seorang yang alim mumpuni ilmunya dan penuh rendah hati (tawadu) uraian rangkian kata-katanya. Buku ini mengandung banyak pelajaran besar yang diambil dari peristiwa kehidupan sosial keseharian yang sangat dekat di sekitar kita. Tentunya apa yang disampaikan Gus Mus dalam buku ini sebagai bahan dialog diri sendiri, dialog yang sangat intens dengan berkaca diri apakah benar-benar hati nurani kita sudah dijadikan raja dalam berprilaku. Ataukan sebaliknya nafsu amarah yang memerintah sanga raja hati nurani.

Tulisan-tulisan Gus Mus dalam buku ini merupakan nasehat-nasehat yang sangat berharga yang penuh makna. Ditulis dengan rangkaian kata dan kalimat yang mudah dicerna akan tetapi maknanya begitu mendalam untuk menjadi bahan pelajaran berharga. Walaupun tulisan ini merupakan artikel beliau diberbagai media massa yang rentang waktunya berberbeda. Akan tetapi karena kehebatan penerbit dalam memilih tema, berbagai tulisan Gus Mus tersebut menjadi untaian mutiara. Kesimpulannya buku ini penting untuk dibaca karena sangat sesuai dengan konteks kekinian. Bahkan Gus Mus memberikan saran silahkan dari sebeleh mana dulu membacanya dari depan belakang ataupun tengah. Itulah seorang yang memiliki sikap tawadu yang sangat tinggi. Seperti yang kita ketahui bersama ketawadu beliau terlihat dari penolakannya ketika para ulama AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi) menunjuknya sebagai Rais Aam (Syuriah) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dengan alasan dirinya merasa belum layak menduduki jabatan tersbut.

Budayawan Sudjiwo Tedjo menyatakan akan ketawaduan Gus Mus. Ia mengatakan dalam cover depan buku ini “ Gus Mus itu pribadi yang rendah hati. Banyak orang yang rajin beribadah, pergi ke masjid, ke gereja, ke vihara dan yang lainnya, namun dirinya merasa lebih baik ketimbang orang yang tidak beribadah. Gus Mus itu ahli sembahyang, tapi tidak merasa dirinya lebih baik dari yang tidak sembahyang.

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Komentari