Merubah Mindset Guru

Oleh: Nana Suryana (Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya Tasikmalaya)

Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Pernyataan ini sudah sangat familier di kalangan mahasiswa yang pernah belajar filsafat. Pernyataan ini bertemali dengan tuntutan Abad 21 sebagai abad babak baru dalam era globalisasi. Banyak tantangan dan permasalahan baru yang harus dihadapi manusia sekarang serta masa yang akan datang. Salah satunya, hasil pendidikan harus mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi utuh dan mampu bersaing secara kompetitif baik dalam skala regional maupun internasional Sebuah tuntutan yang sejatinya menuntut guru lebih kreatif, inovatif, dan adaptif.
Hal itu jugalah yang memaksa seluruh pengambil kebijakan pendidikan di negeri Indonesia untuk terus melakukan berbagai inovasi dalam pendidikan. Beberapa waktu yang lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Muhadjir Effendy) mengeluarkan pernyataan penting akan mendorong semua guru di jenjang sekolah dasar dan menengah terus mengembangakan pembelajaran model High Order Thingking Skill (HOTS). (Harian Pikiran Rakyat (13/11/2108). Keinginan Mendikbud ini akan direalisasikan dalam soal UN tahun pelajaran 2018/2019. Padahal sejatinya soal dalam jenis soal dalam bentuk HOTS ini sudah diberlakukan tahun pelajaran 2017/2018, namun hasilnya sangat mengagetkan dan nilai ujian menurun drastis. Tidak sedikit para guru dan pemerhati pendidikan mengkabinghitamkan jenis ujian dalam bentuk HOTS tersebut menjadi pemicunya.

Guru Faktor Penentu
Pembelajaran model HOTS bagi banyak orang dianggap sebuah inovasi dalam pendidikan. Inovasi yang dimaknai sebagai suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya), serta sengaja diusahakan untuk mengingkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. Munculnya model HOTS ini dilatarbelakangi rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dibanding negara-negara lain (Malaysia, Singapura, bahkan Vietnam) sekalipun.
Dalam mengimplementasikan sebuah inovasi pendidikan, ada dua tahapan yang harus dilalui yaitu tahapan permulaan (intiation stage) dan tahapan implemenatsi (implementation stage). Tahap permulaaan meliputi langkah pengetahuan dan kesadaran, langkah pembetukan sikap terhadap inovasi dan langkah pengambilan keputusan. Sedangkan tahapan implementasi meliputi langkah awal implementasi, langkah kelanjutan pembianaan penerapan inovasi dan faktor yang mempengaruhi proses inovasi Pendidikan.
Faktor penting yang menentukan berjalan tidaknya proses inovasi adalah faktor manusia (guru). Sebagai pendidik guru terikat oleh sistem nilai, norma, dan aturan tertulis yang mengingat. Sistem tersebut adalah kode etik. Dalam kode etik guru Indonesia dinyatakan bahwa guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Dalam prakteknya tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Masih banyak guru yang belum mampu beradapatasi bahkan tidak menerima sebauah perubahan. Secara teori ada beberapa katagori guru dalam mensikapi sebuah inovasi pendidikan. Pertama, inovator, guru berani menerima, gesit, bergairah dalam mencoba ide-ide baru, Kedua, pelopor, guru memiliki kemampuan bersosialisasi yang tinggi, tanggap, dan bertanggungjwab. Ketiga pengikut dini, guru lebih enjoy menjadi pendengar, suka bergaul, dan responsivf), Keempat pengikut kemudian, dia kadang ragu-ragu untuk menerima perubahan dan lebih banyak, menunggu kebanyakan orang) (Roger, 1993).

Merubah Maindset Sebuah Solusi
Guru adalah orang yang langsung bersentuhan dengan pendidikan. Guru pula yang mendesain perencanaan, pelaksanan dan penilaian hsail pembelajaran. Tanpa sosok guru mustahil proses pembelajaran berjalan efektif dan efesien. Sebagai manusia guru memiliki pola pikir dan cara pandang yang berbeda terhadap adanya inovasi dan perubahan dalam pendidikan. Untuk menyetuh pola pikir dan cara padang guru, maka sentuhan terhadap maidset menjadi sebuah keniscayaan. Perubahan mindset merupakan faktor pertama yang harus disentuh sebelum sebuah kebijakan diberlakukan. Carol Dweck (2012) menyatakan bahwa pola pikir merupakan sumber kekuatan kemampuan seseorang. Mengenai kekuatan dibedakan dalam dua pandangan. Pertama menyatakan bahwa pola pikir itu tetap pixed mindset atau karakteristiknya dibawa sejak lahir. Pandangan kedua pola pikir dipandang sebagai sesuatu yang tumbuh growth mindset. Jadi yang dimaksud di sini adalah bahwa mindset itu bisa dibentuk sesuai dengan tujuan dan orientasi yang diharapkan.

Sudah saatnya guru merubah mainset terhadap berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Perubahan mainset pun akan terjadi ketika kesejahteraan para guru diperhatian oleh pemerintah. Mainset dan kesejarteraan bagi guru seperti dua sisi mata uang. Pendidikan dan guru akan berkualitas bergantung pada niat dan usaha seluruh elemen pendidikan. Sesungguhnya allah swt. tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.  (QS. 13 Ayat 11). Wallahu alam.

Komentari