Connect with us

KOLOM

Nikmatnya Menjadi Guru

|

Nana Suryana | Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya Tasikmalaya

Menjadi guru itu nikmat. Itulah kesimpulan saya ketika membaca curhatan seorang guru SD pada salah satu WA sebuah group terkait bagaimana dia menjalani profesinya. Menjadi guru SD harus serba bisa (multitalenta). Mahir dan cakap membuat adaministrasi guru (faktanya tidak hanya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran saja), guru harus sigap menyiapkan anak sebelum masuk kelas, memeriksa kesehatan (kuku, gigi, dan rambut) anak, pawai membimbing anak bermasalah, semangat dan kreatif menyiapkan anak didik ikut berbagai lomba, melatih kesenian kalau pun bukan guru seni budaya, melatih pramuka, sesekali atau bahkan selamanya menjadi guru olah raga dan menjadi guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Semua itu terbayar sudah ketika anak didik berprestasi dan berperilaku yang baik. Sebuah kenikmatan yang tidak akan diperoleh profesi lain, karena itulah nikmatnya menjadi guru SD.

Guru SD harus hadir lebih awal dan datang setiap hari ke sekolah, nyaris tidak ada waktu luang untuk lepas dari tugas dan fungsi sebagai guru. Keseharian guru SD penuh dengan pengabdian dan pelayanan pada peserta didik karena sejatinya profesi adalah pekerjaan yang mendahulukan pelayanan kepada para pengguna (user. Kenikmatan yang luar biasa dirasakan seorang guru SD ketika ia datang ke sekolah, tiba-tiba anak didik memanggilnya bapa……., ibu……, sambil mereka berlarian menghampirinya dan meraup tangan untuk sekedar cium tangan. Subhanallah…nikmatnya menjadi guru SD.

Kondisi tersebut mengingatkan kita akan tugas utama guru yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Oleh karena sangatlah wajar ketika profesi guru dimaknai sebagai profesi yang sarat nilai pengabdian dan pelayanan. Profesi yang bukan mencari keuntungan secara materi melainkan ‘’lahan’’ investasi di masa depan terutama kehidupan akhirat nanti. Karena mulianya tugas guru, maka siapapun yang ingin menjadi guru kepadanya dipersyaratkan syarat yang “ketat” dibanding profesi lain. Ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi guru yaitu; memenuhi kualifikasi sesuai bidangnya, memiliki kompetensi, dan kompetensi harus lulus uji melalui proses sertifikasi. Kompetensi tidak hanya dimaknai sekedar kemampuan melainkan seperangkat pengetahuan, kemampuan, dan prilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh pendidik atau guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.

Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki, dikuasi, dan dihayati guru yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian dengan berbagai komponennya. Belum lagi guru dituntut memiliki satu lagi kompetensi yang disebut kompetensi propetik (keagamaan) sebuah kompetensi yang penuh nilai pengabdian dan pelayanan. Kompentensi propetik ini ditandai dengan kemampuan guru untuk; menciptakan suasana religius di sekolah dan lingkungan, mempimpin upacara “ritual” keagamaan (siap menjadi imam, khatib, pembacaa doa, dan sejenisnya), memotivasi dan menjadi penggerak kehidupan kegamaan di sekolah dan lingkungan, melakukan inovasi pembelajaran agama sehingga menarik semenarik bagimana mengajar mata pelajaran umum, menciptakan kegiatan extrakurikuler keagamaan sebagai alternatif kegiatan yang diminati peserta didik, dan menjadi nara sumber keagamaan minimal bagi peserta didik.

Guru dituntut terus melatih diri menjadi sosok idol peserta didik, menjadi guru favorit, dan menjadi guru yang membuat peserta didik merasa nyaman ketika bersamanya. Jadilah guru yang memiliki ciri-ciri berikut ini; Sabar menghadapi anak yang memiliki perbedaan-perbedaan (deferensiasi individual), bisa menjadi sahabat bagi peserta didik, konsisten dan komitmen dalam bersikap, menjadi pendengar yang baik ketika anak bercerita, dan menjadi penengah bagi peserta didik, menjadi guru yang visioner dan missioner (berwawasan luas dan jauh ke depan), rendah hati, menyayangi pekerjaan (proses belajar mengajar), memaknai mengajar sebagai pelayanan, menggunakan bahasa cinta dan kasih sayang, dan menghargai proses bukan hasil (Akib, 2011). Semua itu akan menjadi wasilah (perantara) bagi guru SD untuk senantiasa memperoleh kenikmatan yang luar biasa. Mudah-mudahan, Amin.
*Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya.