Pembiasaan “Kultum Pupuh “ dalam Membentuk Karakter Peserta didik

Oleh ANI MULYANI, S. Pd.

Guru SDN Cicariu

Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya

 

Pendidikan karakter saat ini menjadi perhatian dari pemerintah dalam rangka menyiapkan generasi muda dalam menghadapi tantangan global di masa datang, kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam membantuk karakter peserta didik sejak dini.

Keprihatinan sudah lama muncul menanggapi sikap generasi muda saat ini, perkelahian pelajar, pergaulan bebas dan perilaku kriminal yang melibatkan pelajar sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Singkatnya bahwa perilaku generasi muda saat ini sudah jauh dari nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia yang terkenal religius dan santun.

Perilaku-perilaku seperti itu muncul dari adanya perkembangan budaya global yang masuk tanpa filter melalui media, generasi muda kita dengan bebas tanpa batas dapat dengan mudah mengakses pengaruh-pengaruh tersebut. Terlebih budaya-budaya gloal tersebut diberi ‘sponsor” oleh media-media elektronik lokal. Sehingga budaya-budaya global tersebut dengan mudah menggerus nilai-nilai luhur budaya kita.

Sekolah sebagai salah satu pemegang amanat dari sistem pendidikan nasioanl tentu saja harus tampil sebagai pemeran utama dalam memerangi budaya global dan merusak, seperti ditekankan dalam tujuan pendidikan nasional bahwa Pendidikan di Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Di lingkunan sekolah, guru diharapkan selalu megedepankan pembentukan dan penguatan karakter pada setiap pembelajaran, pembelajaran tidak melulu mencapai target nilai akademis, tetapi pembelajaran juga harus dapat menekankan target pembentukan karakter, terlebih sesuai dengan tugas utama guru yang tercantum dalam UU nomor 14 tahun 2005 yang menyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Semua guru di Republik ini sudah faham bahwa guru memiliki tugas mendidik dan membimbing sikap peserta didik yang menyertai keberhasilan prestasi peserta didik, Penjelasan ini sesuai dengan makna pendidikan karakter yang disampaikan oleh David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), Pendidikan karakter menekankan kepada empat hal, yaitu olah hati, olah rasa, olah raga dan kinestetik, serta olah karya dan karsa.

Nilai-nilai pendidikan karakter, sebenarnya sudah lebih dulu tertuang meskipun tidak tetulis pada nilai-nilai adat beberapa daerah, tidak terkecuali adat sunda. Nilai-nilai luhur karakter orang sunda sebenarnya telah lama tertuang dalam makna pupuh sunda, pupuh memiliki 17 jenis, yang memiliki makna pada setiap jenisnya, makna-makna tersebut sarat dengan petuah, nasehat semangat dan nilai-nilai luhur lainnya. Meskipun terdapat pupuh yang berwatak jenaka tetapi isinya selalu menananamkan nilai-nilai kebaikan.

Tetapi sayangnya pupuh seperti halnya budaya sunda lainnya sudah lam ditinggalkan, pupuh tidak lagi menarik bagi generasi saat ini, budaya luar yang justru seringkali memberi pengaruh buruk lebih disukai oleh generasi muda saat ini.

Tertarik oleh nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pupuh, penulis menjadikan pupuh sebagai sarana untuk “memoles” karakter peserta didik, upaya tersebut diimplemntasikan dengan cara pupuh digunakan sebagai pengantar atau pembuka pembelajaran setiap harinya, peserta didik diajak untuk ‘menembangkan”pupuh secara bersama-sama, kemudian secara singkat guru menyampaikan makna yang terkandung dalam pupuh tersebut.

Penulis meyakini bahwa pengenalan yang terus menerus dan penyampaian nilai-nilai luhur dari syair pupuh tersebut, sedikit-demi sedkit akan menyentuh rasa dan karya peserta didik yang selanjutnya dapat membentuk karakter luhur peserta didik, ibarat pepatah, “ cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”.

Penulis menyadari bahwa penggunaan pupuh sebagai pengantar pembelajaran memerlukan upaya keras agar menarik peserta didik, kesabaran dan penguasaan “menembangkan” pupuh menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk mengenalkan pupuh.

Tetapi sebenarnya setiap manusia memiliki karsa dan rasa estetik terhadap seni, tidak terkecuali terhadap pupuh, pupuh yang ditembangkan secara benar dan merdu bisa menjadi daya tarik tersendiri bagai peserta didik untukikut menyanyikannya. Terlebih bahwa memang lannggam dalam pupuh memang enak didengar.

Pada mulanya guru menyampaikan pupuh-pupuh pendek yang mudah dinyanyikan oleh peserta didik, misalnya pupuh balakbak yang berwatak gembira sehingga menimbulkan daya tarik terhadap peserta didik.

Selanjutnya pada pertemuan-pertemuan berikutnya guru bersama peserta didik menyanyikan pupuh yang berwatak lain, ketertarikan siswa yang sudah muncul pada setiap pertemuan mulai dimanfaatkan oleh guru untuk menyampaikan nasehat-nasehat sesuai syair pupuh tersebut. Guru bisa menyentuh perasaan siswa dengan menggunakan syair pupuh, misalnya pada pupuh asmarandana pepeling (eling eling mangka eling …dst), guru menjelaskan dengan penuh kasih sayang dan mendalam mengenai makna yang terkadnung dalam pupuh tersebut.

Penyampaian makna-maknasyair pupuh tersebut tidak perlu terlalu lama karena dapat menimbulkan rasa jenuh dan menjadi hal biasa tanpa makna bagi peserta didik, mengambil istilah pesntrean, penyampaian makna sama halnya kultum atau kuliah tujuh menit tapi sarat makna, setelah itu dilanjutkan dengan pembelajaran.

Substansi dari penyampaian tersebut sebenarnya terletak pada kontinuitas penanamkan nilai-nilai luhur pada setiap pertemuaanya. Guru harus sangat pandai menghidari kesan membosankan dalam penyampaianya, guru juga harus faham terhadap respon yang diberikan oleh peserta didik. Guru harus faham kapan harus berhenti menyampaikan kultum atau meneruskannya, lebih dari itu guru harus mampu menjadikan kultum pupuh sebagai pembuka pembelajaran yang menyejukkan sekaligus motivasi bbelajar.

Banyak hal yang diperoleh guru dalam membisakan ‘kultum” pupuh ini, diantaranya, peserta didik bertambah wawasan pengetahuan mengenai jenis pupuh dan sifat-sifatnya, Kultum pupuh” menyentuh” dan memebrikan olah rasa kepada peserta didik mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari, Kultum pupuh cukup memberikan motivasi dan fokus siswa untuk belajar, dan guru secara tidak langsung dapat menemukan bakat-bakat siswa dalam bidang tarik suara, khususnya pupuh.

Komentar