Connect with us

KOLOM

Perayaan Hari Anak Nasional di Kota Tasikmalaya

|

TASIKMALAYA.

Setiap tanggal 23 Juli di Indonesia selalu diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Tema Hari Anak 2017 ini adalah “ Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga” dengan pesan utama “ Saya Anak Indonesia, Saya Gembira”. Hal ini merupakan salah satu kampanya pemerintah untuk menyadarkan keluarga Indonesia supaya mengasuh anak-anaknya. Karena keluargalah pendidikan pertama dan utama buat anak-anak berawal. Dengan begini, harapannya supaya angka kekerasan,bullying, penculikan bahkan pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak-anak berkurang.

Untuk Kota Tasikmalaya sendiri peringatan Hari Anak dilaksanakan di area Car Free Daya dan Taman Kota, kegiatan ini dihadiri oleh Bapak Walikota Budi Budiman dan Ibu Walikota beserta jajarannya. Selain itu hadir pula sejumlah ibu-ibu PKK, pegiat literasi sekolah dan masyarakat, guru serta murid PAUD, perpustakaan daerah, mahasiswa poltekes, Petugas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A), Save the Children, komunitas Kota Tasik seperti Galerry Jalanan, Rumpaka Percisa, Tangkal Kopi, Pelita, Kebun Buku, Gali Nagari, Taman Rumi dan komunitas lainnya.

Acara yang digelar dari pukul 06.00 WIB itu menyediakan panggung hiburan dengan menampilkan Kreasi anak-anak Tasikmalaya , disana juga terdapat stand layanan konsultasi tumbuh kembang kesehatan anak, pemeriksaan kesehatan gratis, sudut baca, area bermain anak, kebun buku juga macam-macam makanan tradisional dan jajanan sehat serta pohon geulis berupa harapan warga Tasikmalaya pada Hari Anak Nasional ini.

Menurut Kang Vudu Abdul Rahman sebagai salah satu pegiat literasi, Hari Anak Nasional merupakan momentum kesadaran literasi masyarakat, terhadap hak-hak anak. Pemenuhan hak-hak anak di Tasikmalaya masih riskan di Kota Santri ini. Perlindungan secara verbal dan non verbal masih terjadi. Hal tersebut harus ditanggulangi dengan melibatkan berbagai komunitas untuk mengkampanyekannya. Sehingga peristiwa secara fisik dan bathin terhadap anak dapat ditanggulangi, ungkap Pemimpin Rumpaka Percisa ini.

Masih menurut Kang Vudu, keterlibatan komunitas literasi Tasikmalaya adalah kampanye gerakan spiral literasi di Tasikmalaya yang melibatkan berbagai komunitas yang fokus pada anak-anak, remaja dan masyarakat dewasa umumnya. Hal ini bertujuan untuk membangun lingkungan taman baca yang ramah dan menarik anak serta memudahkan masyarakat untuk membaca buku dimana pun dan kapan pun tanpa mengeluarkan biaya. Sejalan dengan itu, Mbak Inggri dari Galerry Jalanan berharap bahwa salah satu hak anak-anak Indonesia selain selalu gembira juga harus menjadi anak  cerdas, salah satunya dengan mendekatkan anak dengan buku sejak dini yang dapat membuka wawasan dan pengetahuan sebagai bekal untuk masa depan mereka.  “Setiap anak Indonesia berhak untuk bahagia karena mereka merupakan agen perubahan untuk bangsa yang lebih baik lagi” ungkap gadis yang mengaku masih lajang ini.

Keterlibatan para pegiat literasi dalam Hari Anak Nasional ini seyogyanya mampu menunjukkan eksistensi setiap komunitas yang senantiasa bergerilya menciptakan gerakan spiral dari titik terkecil dan meluas dengan melibatkan semua unsur masyarakat. Pegiat literasi yang juga seorang pendidik lainnya yang hadir pada perayaan Hari Anak di Kota Tasikmalaya adalah ibu Yeyen Marhaeni, beliau sangat mendukung kegiatan positif ini sehingga menimbulkan keasadaran semua pihak untuk menjadi masyarakat literat dalam Hari Anak Nasional ini. Literasi tidak hanya sebatas membaca di sekolah namun harus menjadi budaya terutama di keluarga dan masyarakat. Dan puncak acara hari Anak ini akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juli 2017 d Bale Kota berupa audiensi dengan Bapak Walikota Budi Budiman khususnya membumikan literasi di Kota Tasikmalaya dengan kebijakan-kebijakannya menuju Tasik Literat.

Perayaan ini juga menjadi ajang silaturahmi, komunikasi dan sharing antar komunitas di Tasikmalaya.  Harapannya setelah acara ini, baik komunitas, sekolah, keluarga, dan pemerintah dapat bersinergi dalam membangun lingkungan yang dapat meningkatkan kemampuan literasi, ketika kesadaran minat baca seluruh pihak dapat menjadi budaya, kepekaan-kepekaan tumbuh subur dan bersemi mewarnai taman-taman dan halaman-halaman. Dan terpenting adalah kesadaran untuk memberikan perlindungan terhadap anak. Sehingga anak-anak merasa nyaman dan tenteram untuk mengasah dirinya sendiri agar menajdi pnerus negeri sejati. Selamat Hari Anak Nasional. #savethechildren.

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Komentari