Connect with us

KOLOM

Perkembangan Empati Anak Usia Dini

|

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Perkembangan empati muncul didahului dengan adanya simpati, yaitu sikap emosional yang menaruh hati kepada orang lain sehingga merasa suka, merasa senang kepada orang lain. Memang banyak orang masih kebingungan memaknai arti simpati dan empati, wajar, karena simpati dan empati berhubungan dengan emosi yang sama.

Bagaimana tahap perkembangan empati anak usia dini? Pada dasarnya perkembangan empati bayi telah dimulai pada masa bayi ketika bayi dalam pelukan orang tuanya, sehingga muncul ikatan emosi antara bayi dan orang tuanya. Pelajaran yang dialami ini merupakan pondasi untuk pembelajaran tentang kerja sama dan syarat-syarat agar dapat diterima dengan baik dalam keanggotaan kelompok. Kemudian empati berkembang sesuai dengan peningkatan usia dan stimulus yang diperoleh dari lingkungannya, semakin banyak stimulus yang diberikan semakin meningkat perkembangan empatinya. Perkembangan empati sudah dimulai sejak bayi, pada waktu bayi lahir akan gelisah karena terganggu mendengar ada bayi yang lain menangis. Ketika bayi yang berusia 11 bulan melihat anak yang lain jatuh, kemungkinan bayi ini akan menangis, dan prilakunya menyerupai anak yang jatuh misalnya menghisab ibu jari dan langsung bersandar ke pangkuan ibunya. Reaksi yang ditampilkan bayi tersebut adalah empati dasar yang dimiliki bayi untuk perkembangan empati selanjutnya.

Menurut Shapiro, perkembangan empati yang dialami anak usia dini menjadi empat tahapan:
a. Empati emosi
Menurut pakar psikologi perkembangan, (Hoffman) menerangkan bahwa empati ini adalah empati global, karena ketidakmampuan anak-anak membedakan antara diri sendiri dan dunianya, sehingga menafsirkan rasa tertekan bayi lain sebagai rasa tertekannya sendiri. Bayi (0 – 1 tahun) akan mecoba melihat bayi lain yang menangis dan sering sampai ikut menangis.
b. Empati egosentrik
Anak (1 – 2 tahun), pada usia ini seorang anak sudah mampu melihat dengan jelas kesusahan orang lain bukan kesusahannya sendiri. Secara naluriah akan mencoba meringankan beban penderitaan orang lain. Misalnya seorang bayi (16 bulan) akan menawarkan mainannya kepada ibunya/temannya yang sedang sedih. Tetapi perkembangan kognitifnya belum matang, anak seusia ini mengalami kebingungan dalam berempati karena tidak begitu yakin dengan apa yang dilakukannya.
c. Empatik kognitif
Anak (6 tahun) ditandai dengan kemampuan memandang sesuatu dengan perspektif orang lain. Misalnya pada usia ini memungkinkan seorang anak sudah memahami kapan harus mendekati atau menjauhi ketika temannya sedang sedih.
d. Empatik abstrak
Anak (10 – 12 tahun) mengembangkan emosinya tidak hanya kepada orang yang dikenalnya saja, tetapi terhadap orang yang belum dikenal sebelumnya.
Pada hakekatnya anak-anak sudah memiliki empati masing-masing pada dirinya secara naluriah, sedangkan perkembangan selanjutnya tergantung seberapa besar orang tua atau orang yang paling dekat dengan anaknya mampu memberikan stimulus atau rangsangan terhadap perkembangan empati tersebut.

Menurut para ahli psikologi perkembangan anak, bahwa seorang bayi mengalami stres, bahkan bayi pun telah menyadari bahwa ia telah ditinggal pergi orang lain. Anak usia dini merupakan masa yang paling peka, maka apabila mendapat rangsangan atau stimulus, maka pertumbuhan otak dan mental anak akan mencapai kesempurnaan, keadaan akan mempengaruhi keberhasilan tugas perkembangan anak selanjutnya.
Dengan demikian perkembangan empati seorang anak akan tergantung dari stimulus atau rangsangan orang-orang yang terdekat dengannya. Jika anak mendapat stimulus rangsangan yang sebagaimananya sudah tentu perkembangan empatinya akan terasah. Oleh sebab itu, para orang tua sangat dianjurkan untuk menanamkan sifat empati kepada anak.

Orang tua atau lingkungan sekolah merupakan agen pengembangan empati seorang anak. Dengan demikian orang tua, guru (lembaga pendidika) atau orang orang yang dekat dengan anak harus menjadi suri tauladannya. Orang tua bisa merangsang perkembangan empati dari hal-hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengajak anak menjenguk orang sakit, mengajak anak bershodaqoh kepada fakir miskin, melatih mendengarkan kesulitan orang lain, menanamkan saling menyayangi dan saling mengasihi dan lain sebagai. Selain itu juga berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mengembangkan empati di rumah diantaranya dengan bercerita/mendongeng, bernyanyi, bersajak, dan berkarya wisata yang disesuaikan dengan kemampuan taraf berpikir anak agar mudah diterima dan dipahami.

Agar anak-anak sebagai generasi penerus bangsa diharapkan memiliki perilaku yang sesuai harapan lingkungannya, orang tua, keluarga atau guru-guru di sekolah mampu mendampingi anak-anak nya di mana pun berada dan kapan waktu. Berikan rangsangan atau stimulan yang baik dan sesuai dengan perkembangan usianya dengan harapan anak-anak dapat berkembang ke arah yang lebih baik sebagai tunas harapan nusa, bangsa dan agama.

 

Daftar Pustaka
Novan Ardy Wiyani, Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, Cetakan 1 Yogyakarta Gava Media 2014.

Shapiro. L.E, Mengajarkan emosional Intelegensi pada anak, Terj. Alex. T. (Jakarta : Gramedia Pustaka, 1997).

Taufiq L.W., Hubungan empati dengan intensi prososial pada siswa siswi Muhamadiyah Mataran (Surakarta: Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2000).

Hurlock, E. B. (1991). Perkembangan anak. Edisi keenam. Jakarta. Erlangga.

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Komentari