Connect with us

KOLOM

Teknik Internalisasi Karakter di Sekolah Dasar

|

Nana Suryana | Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya Tasikmalaya

Baik secara historis maupun realitas, pendidikan nilai dan moral sudah menjadi bagian integral dari pendidikan nasional di Indonesia. Namun dalam kehidupan sehari-hari terdapat sejumlah ketimpangan sosial dan moral, baik ditataran pejabat publik, pemerintahan, masyarakat umum, bahkan dalam kehidupan pelajar atau mahasiswa yang mengindikasikan belum berhasilnya pendidikan nilai moral secara memuaskan (Hakam, 2011). Peningkatan kriminalitas dan menurunnya moralitas pun saat ini sudah menyentuh anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Mereka ada yang terlibat kasus narkoba (narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya), tindakan kekerasan antar teman, bullying, dan seksualitas (Hakam, 2011; KPAI, 2018; Kementerian Kesehatan RI, 2017; Jalil, 2018 dan Rosidatun, 2018).

Hadirnya perundang-undangan terkait dengan penguatan pendidikan karakter (PPK) dan mata pendidikan kewarganegaraan (PKn) seharusnya memiliki pengaruh postif dan signifikan terhadap kebermoralan masyarakat terutama peserta didik. Namun dalam kehidupan sehari-hari terdapat sejumlah ketimpangan sosial yang mengindikasikan “ketidakbermoralan”; kebebasan mengeluarkan pendapat yang cenderung tak terbatas dan anarkis; terjadinya pelanggaran hukum disetiap lapisan masyarakat; pelaksanaan pemilihan kepala daerah yang cenderung berakhir dengan kerusuhan; kontrol sosial yang sering lepas tata krama; serta terdegradasinya kewibawaan para pejabat negara (Hadiwardoyo, 1990; Setiardja, 1990; dan Darmadi, 2007). Persoalan ini perlu mendapat perhatian serius terutama para guru yang nota bene bersentuhan langsung dengan peserta didik di sekolah. Peran keluarga dan sekolahpun sangat diharapkan. Guru ditutut memiliki keterampilan bagaimana melaksanakan proses penanaman nilai (internalisasi) karakter kepada peserta didik di sekolah.

Internalisasi Karakter di SekolahDasar Anak sekolah dasar berada pada usia 7-12 tahun. Usia ini berada pada fase Industry vs inferiority. Pada fase ini fase kesempatan baik untuk guru dan orang tua menanamkan rasa mampu berperilaku baik dan berkarakter kepada peserta didik. Ada banyak teknik yang dapat dilakukan guru dan orang tua dalam proses internaliasai karakter tersebut.

Secara operasional teknik adalah cara yang dilakukan sesorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Bertemali dengan metode penanaman nilai, moral, dan karakter bagi anak sekolah dasar, ada metode yang bisa dipertimbangkan guru di sekolah dasar yaitu metode internalisasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia maknai internalisasi sebagai penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin, atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran terhadap kebenaran doktrin atau nilai diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Nilai, moral, dan karakter dapat dihayati dan diwujudkan dalam sikap serta perilaku peserta didik di sekolah, ketika internalisasinya tepat.

Ada empat teknik yang dapat dilakukan guru yaitu; Pertama pembiasaan. Guru seyogyanya membiasakan dirinya dan peserta didik berperilaku sesuai nilai, norma, dan karekater di sekolah dasar. Ketika guru dan anak sudah terbiasa berperilaku sesuai karakter, maka sesunggunya karakter tidak perlu diajarkan. “bisa karena biasa”, demikian pepatah mengatakan.

Setelah proses pembiasaan, teknik kedua adalah peneladanan. Ada fenomena mengkhawatirkan dari anak-anak “zaman now”. Mereka seolah-oleh sudah kehilangan panutan dan teladan dalam lingkungannya. Mereka lebih mengidolakan dan meneladani artis, tokoh kartun, dan lain-lain sebagainya ketimbang guru dan orang tua. Pada sisi inilah guru harus dan orang tua hadir menjadi tokoh panutan, idola, serta teladan bagi peserta didik. Banyak hal bisa dilakukan guru dalam proses peneladanan; hadir tepat ke sekolah tepat waktu, mengerjakan administrasi guru dengan baik, membuat perencananan pembelajaran setiap akan mengajar, membimbing dan menilaian secara objektif dan tidak diskriminatif, berpakaian yang sopan, berperilaku dengan baik dan lain sebagainya.

Teknik ketiga adalah pemotivasian. Masa anak usia sekolah dasar adalah masa mencari indentitas dan mudah terbawa isu. Berperilaku baik bagi seorang anak belum menjadi sebuah kebutuhan. Suatu saat dia mampu menunjukan perilaku dan karekater baik, tapi pada waktu yang lain dia pun akan dengan mudah menunjukan perilaku sebaliknya. Disinilah pentingnya guru dan orang tua memberikan dorongan kepada peserta didik. Ketika peserta didik melakukan kesalahan misalnya, katakan secara berulang-ulang, bahwa kalian bisa menjadi peserta didik yang baik, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Teknik keempat adalah penegakkan disiplin. Penegakkan disipilin tidak diartikan bertindak keras melainkan tegas. Tegas menegakkan aturan, tegas menegakkan hukuman, dan tegas memberikan reward (penghargaan, hadiah, pujian dan sejenisnya). Ketika keempat teknik ini dilakukan secara istiqomah, insya allah sekolah akan menjadi “lahan persemaian amal” bagi guru untuk dipanen sepuluh duapuluh tahun yang akan datang, karena pendidikan adalah investasi masa depan. Insya allah. Amin.