oleh

Puisi, Karya Sastra Penuh Makna

 

oleh : A. Heru Sujud (Guru SDN Sukalaksana)

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari…

Sepenggal puisi diatas adalah bagian dari pusiyang berjudul Aku karya pujangga besar bapak Chairil Anwar. Karya sastra dengan untaian kata perjuangan didalamnya, penuh makna dan sarat akan pesan pesan perjuangan kala itu. Pesan perjuangan yang menyiratkan betapa gagah dan beraninya para pejuang kala itu dalam upayanya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara.

Ya, dulu puisi dijadikan sebagai media alat juang. Juga digunakan sebagai sarana mengekpresikan diri dari para penulisnya. Kebebasan berpikir tercermin dari dari bahasanya yang lugas, liar dan menyiratkan banyak hal. Tapi itu dulu, sebelum ada teknologi merambah dan percampuran budaya terjadi dengan cepat. Puisi lambat laun mulai ditinggalkan para penggemarnya. Bahkan mungkin kini hanya sedikit karya puisi yang tersaji dan di pentaskan secara profesional.

“aku tak ingin menangis, menerka gerimis” lagu yang sering di nyanyikan oleh musisi muda Jason Ranti adalah sepenggal bait puisi buah karya bapak sapardi joko dormono dan tentunya familiar di telinga para penggemarnya. Sapardi joko darmono, taufik ismail, atau beberapa tokoh puisi lainnya mungkinsudah tidak dikenali lagi oleh anak muda atau kaum pelajar. Padahal banyak sekali karya besar puisi yang dihasilkan oleh para tokoh “sepuh” puisi ini. Karya merka melegenda dan selalu enak untuk dinikmati.

Mati surinya puisi bukan karena puisi tidak lagi diajarkan di bangku sekolah. Karena nyatanya puisi masih terdapat dalam kurikulum bahkan diajarkan sejak siswa kela 1. Puisi dengan larik larik sederhan dan bait bait murni masih dihasilkan dari bangku bangku sekolah dan tangan polos siswa. Namun ketiadaan tempat dan gelaran guna menampilkan karya karya puisi inilah yang menyebabkan seolah-olah puisi ini mati suri. Makna yang dalam dari puisi kini haya terdengar sepintas dan samar di dalam ruangan kelas. dan hanya dinikmati oleh siswa yang berada di dalam kelas tersebut, kemudian terlupakan seiring bel bunyi pulang sekolah berbunyi.

Dulu sampai era akhir 90 an puisi masih sangat digandrungi anak muda. Muda mudi yang sedang kasmaran akan menuliskan bait-bait kata mutiara yang kemudian akan ditulis rapih didalam buku catatan harian. Kini kata kata puitis tak lagi terdengar atau tertulis tergantikan oleh curhatan penuh sumpah serapah di facebook, atau lenggak lenggok bak foto model di instagram. Atau tweet war di tweeter yang terkadang berisi kata kata makian. Tidak salah emmang karena zaman sudah berubah dan kita yang harus mengimbangi perkembangan zaman tersebut. Namun kecintaan akan karya sastra lama termasuk di dalamnya puisi jangan sampai luntur dan hilang.

Rasanya puisi dengan segala keindahan bahasanya masih sangat layak untuk kita gunakan guna menuangkan segala keluh kesah perasaan kita. Pun begitu juga dengan anak-anak perlu kiranya untuk selalu diingatkan dan dikenalkan dengan puisi ini. Begitu juga dnegan pemerintah perlu lebih banyak emmberikan kesempatan dan panggung kepada para pegiat puisi agar gaung dari puisi sebagai sesuatu yang layak dinikmati kembali menggema. Ini menjadi tugas bersama kita. Steakholder yang terkait didalamnya, pemerintah, guru, siswa perlu bekerja sama guna mengebalaikan kejayaan puisi pada era keemasannya.

Komentar

News Feed