SMK Bakti Karya Parigi Sukses Gelar Festival 28 Bahasa untuk Mempromosikan Keberagaman Budaya

SISWA12 views

SMK Bakti Karya Parigi baru saja mengadakan Festival 28 Bahasa dengan tema “Warna-warni Indonesia Merangkul Persatuan Melalui Keberagaman.” Festival ini dihelat dengan tujuan mulia untuk memelihara dan mempromosikan bahasa daerah yang kaya akan kekayaan budaya.

Dalam festival ini, siswa dari berbagai provinsi di Indonesia yang bersekolah di SMK Bakti Karya Parigi, dengan antusiasme tinggi, merancang dan membangun miniatur rumah khas daerah masing-masing. Selain itu, setiap karya seni dan kreasi yang dipamerkan memancarkan pesona khas budaya daerah.

Kepala SMK Bakti Karya Parigi, Athif, menjelaskan, “Festival ini bertujuan untuk menghadirkan keberagaman bahasa yang ada di Indonesia, bukan hanya bahasa Sunda dan Jawa, melainkan juga bahasa Melayu, Papua, Sulawesi, dan banyak lainnya yang mungkin bagi sebagian orang terdengar asing.”

Festival ini menghadirkan orasi bahasa daerah, pameran pakaian adat daerah, hidangan khas, dan upacara kebudayaan. Athif berharap bahwa festival ini akan menjadi jembatan komunikasi antara siswa dan warga yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda.

Perwakilan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Toto, menambahkan, “Festival 28 Bahasa memiliki dampak positif pada kemampuan siswa dalam berbicara, berpidato, dan berinovasi. Ini adalah inovasi dalam pendidikan di Indonesia, dan saya sangat mengapresiasi penyelenggaraan festival ini. SMK Bakti Karya Parigi telah menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari bersama masyarakat.”

Penampilan Tariat Adari pada Festival 28 Bahasa di SMK Bakti Karya Parigi

Ketua Pelaksana Festival 28 Bahasa, Jujun Junaedi, menjelaskan, “Festival ini pada dasarnya menjadi wadah bagi siswa dengan latar belakang budaya yang beragam. Kami menampilkan pertunjukan orasi, puisi, teater, tari dengan sentuhan khas daerah masing-masing.”

Tujuan utama sekolah ini adalah memperkenalkan budaya kepada siswa dan warga di Kabupaten Pangandaran. “Meskipun siswa kami berasal dari berbagai latar belakang, baik bahasa, daerah, maupun kepercayaan, kami semua memiliki tujuan yang sama,” tegasnya.

Jujun menekankan bahwa festival ini adalah momen di mana perbedaan yang paling mencolok adalah dalam cara berkomunikasi atau bahasa tutur. “Ketika datang ke bahasa daerah, kami melihat bahwa pemahaman semakin menurun seiring berjalannya waktu,” ujarnya.

Festival ini telah menjadi tradisi tahunan yang digelar sejak tahun 2016, dan tahun ini merupakan edisi ke-7. Festival ini mengundang siswa dari 28 daerah di Indonesia, menciptakan perpaduan unik dari berbagai budaya yang membanggakan. “Puncak dari festival ini adalah keragaman dalam bahasa dan budaya Indonesia, dan ini adalah perayaan yang kami nantikan setiap tahun,” pungkas Jujun.

Komentar